Logo Header Antaranews Jogja

Sungai Gendol relatif aman tampung lahar dingin

Rabu, 3 Oktober 2012 13:08 WIB
Image Print
Penambang batu di sungai berhuli di Gunung merapi (Foto Antara/Wahyu Putro)

Sleman (ANTARA Jogja) - Aliran Sungai Gendol di Desa Kepuharjo dan Glagahrjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, saat ini kondisinya relatif aman untuk menampung material vulkanik jika terjadi banjir lahar dingin pada musim hujan nanti.

"Saat ini setelah dilakukan normalisasi, kondisi aliran Sungai Gendol khusunya mulai dari Dusun Kopeng ke selatan hingga Manggong relatif aman untuk menampung material yang terbawa banjir lahar dingin," kata Kepala Desa Kepuharjo Heri Suprapto, Rabu.

Menurut dia, untuk kedalaman aliran Sungai Gendol di Dusun Kopeng saat ini sekitar 20 meter, sedangkan untuk aliran di Dusun Batur hingga Manggong sudah lebih dalam lagi sekitar 30 hingga 75 meter.

"Saat ini yang belum dilakukan normalisasi memang aliran di Dusun Kaliadem atau dusun tertinggi, namun jika sampai terjadi banajir lahar maka aliran material tidak akan sampai meluber ke kiri kanan tetapi akan langsung masuk ke aliran yang telah dinormalisasi di Dusun Kopeng ke selatan," paparnya.

Koordinator relawan Saluran Komunikasi Sosial Bersama (SKSB) Kecamatan Cangkringan Sriyanto, mengatakan berdasarkan pantuan yang dilakukan relawan secara umum kedalaman Sungai Gendol saat ini, baik itu di wilayah Kepuharjo dan Glagaharjo masih relatif aman untuk menampung aliran lahar.

"Dulu sebelum erupsi besar Gunung Merapi 2010, kedalaman Sungai Gendol di Kepuharjo maupun Glagaharjo berkisar 50 hingga 100 meter dan kemudian hamapir seluruh aliran sungai dipenuhi material vulkanik, saat ini setelah dilakukan normalisasi kedalaman sekitar 20 hingga 50 meter," tuturnya.

Ia menuturkan, pada musim hujan mendatang, potensi banjir lahar dingin tetap harus diwaspadai karena material-material yang berada di kawasan puncak dan lereng masih berpotensi turun saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi.

"Namun, jika dibandingkan musim hujan lalu tingkat kerawanan diprediksi menurun," ucapnya.

Ia mengatakan, untuk mengantisipasi dampak bencana, komunitas relawan bersama masyarakat yang bermukim di sekitar aliran sungai mendapatkan pelatihan kebencanaan yang difasilitasi BPBD Sleman.

"Selain itu, peralatan mitigasi berkaitan dengan sistem peringatan dini sudah cukup lengkap, karena sejak musim hujan lalu pemerintah sudah membangun beberapa `Early Warning System` (EWS) dan CCTV. Kesiapan antisipasi meminimalisir jatuhnya korban juga terus dilakukan diantaranya dengan peningkatan koordinasi baik pemerintah, komunitas relawan dan masyarakat," katanya.

Kasi Data dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta Toni Agus Wijaya mengatakan, untuk wilayah DIY, diprediksi musim hujan akan masuk pada akhir Oktober untuk bagian Utara dan akhir November untuk bagian Selatan.

(U.V001)



Pewarta :
Editor: Heru Jarot Cahyono
COPYRIGHT © ANTARA 2026