Logo Header Antaranews Jogja

Perajin gerabah Kasongan terus berinovasi hadapi persaingan

Kamis, 15 November 2012 17:14 WIB
Image Print
Produk kerajinan gerabah Kasongan (Foto Antara/Noveradika)

Bantul (ANTARA Jogja) - Perajin gerabah di sentra kerajinan gerabah Kasongan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, terus melakukan inovasi produk mereka untuk menghadapi persaingan produk serupa dari luar daerah.

"Untuk mempertahankan pasar terutama ekspor, kami terus berinovasi, misalnya memperbaharui dan mengembangkan corak serta model produk," kata Koordinator Wilayah (Korwil) Sentra Kerajinan Gerabah Kasongan Suburjo Hartono di Bantul, Kamis.

Ia yang juga sebagai Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bantul ini, mengatakan sejak era persaingan bebas dari negara-negara di Asia Tenggara dan China, banyak produk serupa yang bermunculan, bahkan untuk ekspor kerajinan ke sejumlah negera Eropa mulai tersaingi.

Oleh karena itu, kata dia, untuk mempertahankan konsumen, perajin gerabah terus melakukan inovasi, bahkan sampai saat ini pihaknya memperkirakan ada sekitar 100 model dan pengembangan untuk satu jenis guci.

"Saat ini di negara-negara Asia seperti Thailand dan China juga banyak memproduksi kerajinan gerabah, meskipun tidak sama dengan produk kerajinan kami. Namun, kami tetap berinovasi agar importir produk kami tidak beralih," katanya.

Ia mengatakan, selain terus berinovasi sesuai perkembangan, kalangan perajin gerabah juga rutin mengikuti pameran tingkat nasional maupun internasional yang difasilitasi dinas terkait maupun kementerian negara.

Menurut dia, sentra kerajinan gerabah yang mulai tumbuh pesat pada 1990-an sampai 2000 tersebut, saat ini telah menyerap tenaga kerja sekitar 3.000 orang, dengan memproduksi kerajinan gerabah mulai dari souvenir ukuran kecil hingga produk kerajinan setinggi dua meter.

Ia mengatakan para perajin memproduksi aneka barang kerajinan yang sekitar 50 persen diekspor ke berbagai negara di Eropa, Afrika dan Australia, dan sekitar 50 persen dipasarkan ke berbagai daerah seperti Jakarta, Bandung, Bali, dan Jepara.

"Periode 1990 sampai 2000 transaksi ekspor lebih mendominasi, dalam sebulan rata-rata bisa mengekspor 90 hingga 100 kontainer. Namun, pascakrisis global rata-rata hanya 30 hingga 60 kontainer setiap bulan," katanya.

Ia mengatakan dari semua perajin gerabah di Kasongan yang mempunyai pembeli tetap dan rutin, mengeskpor maupun mengirim ke berbagai daerah hanya sekitar 30 persen, dan sisanya hanya memasok perajin besar yang sudah mempunyai pasar sendiri.

"Jadi, semua perajin tetap bekerja, karena biasanya permintaan pasar tidak akan dicukupi dari beberapa perajin, namun sejumlah perajin lainnya ikut menerima pesanan," katanya.

(KR-HRI)



Pewarta :
Editor: Mamiek
COPYRIGHT © ANTARA 2026