Sleman (ANTARA Jogja) - Generasi muda di Desa Sumberrahayu, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai meninggalkan kerajinan tenun padahal prospek industri itu cukup cerah di pasaran.
"Kendala utama pengembangan industri tenun adalah tidak ada generasi muda yang berminat membuat kerajinan tenun. Generasi menganggap menenun hal membosankan. Padahal kerajinan tenun mempunyai prospek bagus di pasaran karena dua tahun terakhir permintaan terus naik," kata pemilik Pusat Kerajinan Tenun "Sari Puspa Industri Tenun" Suwardi di Sleman, Minggu.
Perajin tenun di pusat kerajinan miliknya, kata Suwardi, didominasi generasi tua atau berumur di atas 45 tahun sehingga hasil produksi tenun kurang maksimal.
Menurut dia, dirinya telah memberikan pelatihan menenun kepada kalangan warga di luar Kabupaten Sleman.
"Kalau hanya mengandalkan perajin tenun di daerah kami, maka permintaan tenun tidak akan terpenuhi. Untuk itu, kami memberikan pelatihan dan membuat jaringan perajin tenun di Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo. Ini untuk meningkatkan produksi tenun," kata Suwardi.
Dia mengatakan, sebenarnya permintaan tenun di pasaran lokal dan nasional tinggi, namun perajin tenun malah mulai meninggalkan dan beralih kerajinan tas.
"Kami terus mendorong generasi muda untuk mencintai tenun. Kami juga menjalin kerja sama dengan perajin tenun di Dusun Boro, Desa Banjarasri, Kalibawang, dalam pemasaran atau tukar informasi bahan baku dan pemasaran," kata dia.
Perajin tenun "Lurik Kembang Maju Mandiri" Moyudan, Martini mengatakan generasi muda mulai enggan membuat lurik karena dianggap tidak memiliki prospek untuk menambah pendapatan keluarga sehingga anggota perajin lurik yang awalnya mencapai 20 orang kini hanya tinggal enam orang yang aktif.
"Saat ini, membuat lurik sebagai pekerjaan sambilan bukan pekerjaan utama karena hasil yang didapat belum mampu mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, sehingga banyak perajin batik beralih pekerjaan," kata dia.
(KR-STR)
