Logo Header Antaranews Jogja

Pernyataan BBPOM dinilai rugikan perajin mie basah

Selasa, 25 Desember 2012 12:02 WIB
Image Print

Bantul (ANTARA Jogja) - Pernyataan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan Jawa Tengah tentang imbauan agar warga tidak memasak mie basah karena banyak mengandung formalin dinilai merugikan perajin atau pengusaha makanan itu.

"Pernyataan Balai BPOM Jawa Tengah telah merugikan pengusaha mie basah yang sudah memproduksi mie basah tanpa bahan pengawet," kata Sekjen Asosiasi Pengusaha Mie Basah DIY-Jateng (APMIE Jaya) sekaligus pengusaha mie basah di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Waljito, Selasa.

Menurut dia, pernyataan Kepala Balai BPOM Jawa Tengah, Supriyanto Utomo tentang imbauan tidak konsumsi mie basah beberapa hari lalu itu menyusul penggerebekan pabrik mie basah milik Suharyanto oleh Polda Jateng di Kemirirejo, Kota Magelang karena menggunakan formalin.

Waljito mengatakan, Suharyanto (tersangka) bukan anggota APMIE Jaya, bahkan pihaknya sudah pernah melaporkan Suharyanto ke Balai BPOM DIY karena menjual mie basah yang diduga kuat mengandung formalin ke sejumlah pasar tradisional di Yogyakarta.

"Mie basah yang diproduksi anggota APMIE telah lolos uji formalin, karena setiap pengusaha mie basah yang tergabung dalam asosiasi memiliki alat untuk mendeteksi kandungan formalin," katanya.

Oleh sebab itu, kata dia asosiasinya meminta Kepala BPOM Jateng segera meluruskan pernyataannya tersebut agar tidak berimbas pada pengusaha mie basah yang tidak menngunakan formalin.

"Sejak pernyataan itu rata-rata pengusaha mie basah mengalami penurunan pendapatan sekitar 30 sampai 50 persen, karena permintaan sepi, jelas itu akan semakin merugikan kalau tidak diklarifikasi," katanya.

Salah satu pengusaha mie basah di Kecamatan Sewon, Budi mengatakan, sejak ada pernyataan dari Balai BPOM Jateng tersebut produksi mie basah mengalami penurunan sekitar 50 persen karena permintaan pasar berkurang.

Ia mengatakan, biasanya dirinya dapat memproduksi delapan kuintal hingga satu ton, akan tetapi sekarang ini hanya bisa memproduksi antara lima sampai enam kuintal per hari.

"Harga mie basah Rp5.000 sampai Rp7.000 per kilogram, jika dirupiahkan maka penurunannya sekitar Rp2 juta sampai Rp5 juta perhari, untuk meningkatkan pasar kembali juga perlu ada statemen dari pejabat dipercaya," katanya.

(KR-HRI)



Pewarta :
Editor: Heru Jarot Cahyono
COPYRIGHT © ANTARA 2026