
Gunung Kidul belum manfaatkan air bawah tanah

Gunung Kidul (Antara Jogja) - Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, belum memanfaatkan potensi air yang cukup besar dari aliran sungai bawah tanah.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Gunung Kidul Syarief Armunanto di Gunung Kidul, Minggu, mengatakan pemkab belum memiliki peta persebaran sungai bawah tanah, sehingga potensi air bawah tanah yang cukup besar belum bisa dieksploitasi. "Kami belum punya, dan belum tahu siapa yang akan mengerjakan," kata Syarief.
Ia mengatakan beberapa waktu yang lalu sudah melakukan komunikasi dengan Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN), namun teknologi yang digunakan akan mengganggu ekosistem. "Sebenarnya bisa, tetapi menggunakan teknik geolistrik dan bisa menyebabkan pencemaran lingkungan, dan saya tidak mau," katanya.
Menurut dia, persebaran sungai bawah tanah di Gunung Kidul merata di seluruh kecamatan dan berpotensi untuk dieksploitasi.
Rencananya, pemerintah bisa membuat kebijakan untuk pemanfaatannya terutama dalam penanggulanan bencana kekeringan, apabila sudah memiliki peta sungai bawah tanah. "Kawasan karst pasti menyimpan sungai bawah tanah dan jika memiliki petanya dapat dimanfaatkan untuk mengatasi kekeringan," katanya.
Sekretaris Bappeda Gunung Kidul Sri Suhartanta menambahkan, pemanfaataan sumber air bawah tanah di Gunung Kidul membutuhkan biaya yang besar. Dia mencontohkan pemanfaatn air di Bribin yang menghabiskan puluhan miliar rupiah. "Namun, apabila dimanfaatkan bisa mengurangi kekeringan," katanya.
Berdasarkan data baru, empat sungai bawah tanah yang dimanfaatkan, yakni Baron, Bribin, Ngobaran dan Seropan dari tujuh sungai yang ada ditambah Seropan, Sumurup dan Toto.
Berdasarkan data dari Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak, debit ketujuh sungai memiliki debit air yang berbeda bila di total maka debitnya mencapai 6.810 liter per detik.
Potensi terbesar dimiliki Baron dengan debit mencapai 4.000 liter per detik, dan terkecil di Ngobaran dengan 120 liter per detik. "Ada empat sungai yang dimanfaatkan, tetapi belum maksimal. Misalnya Baron dengan debit mencapai 4.000 liter per detik, belum bisa dimanfaatkan semuanya baru sebagian kecil," kata Sri.
(KR-STR)
Pewarta : Oleh Sutarmi
Editor:
Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2026
