Gunung Kidul (Antara Jogja) - Ratusan petani dan nelayan Desa Jepitu, Kecamatan Girisubo, Kabupate Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis, melaksanakan upacara adat "ngalangi" di Pantai Wediombo sebagai ungkapan ras syukur atas hasil panen yang melimpah.
Upacara yang digelar setahun sekali seusai masyarakat setempat panen padi diawali dengan iring-iringan kesenian reog dan dikuti masyarakat yang semuanya mengenakan pakaian jawa dan membawa sesajen.
Sesepuh adat setempat Sudarso di Gunung Kidul mengatakan ucapara ini merupakan ungkapan rasa syukur masyaralat setempat kepada Tuhan atas panen yang berlimpah.
"Ritual ini digelar setiap setahun sekali," kata Sudarso.
Ia mengatakan masyarakat yang mengikuti acara wajib membawa nasi dan lauk yang dimasak sendiri di rumah. Saat dibawa dalam ritual, makanan harus diletakan dalam anyaman terbuat dari daun kelapa (panjang ilang). Makanan yang wajib disajikan yakni sambal kelapa.
"Apa pun jenis makanan yang dibuat, sambal kelapa ini wajib ada," kata dia.
Setelah makanan didoakan maka sebagian makanan dilarung dan sebagian lagi dimakan di tempat. Ada pula yang dibawa pulang. Syarat dalam sesajen yang dilarung cukup banyak, ada makanan, ingkung ayam, dan kain tipis warna hijau. Kain tersebut dipercaya sebagai persembahan kepada Ratu Kidul, seorang ratu yang dipercaya mempunyai kerajaan di pantai selatan.
"Kain klemir warna hijau wajib ada, kain ini kita berikan kepada Nyi Roro Kidul," kata dia.
Makanan yang dilarung dibawa sampai di tengah laut, sejumlah sesajen yang diketakan dalam kotak yang dibentuk gunungan kemudian dihanyutkan kedalam laut.
Menurut dia, Ngalangi dalam bahasa Indonesia diartikan menghalangi. Konon, masyarakat setempat kala itu biasa mencari ikan dengan cara menghalang-halangi atau Ngalangi dengan sulur (akar) pandan.
"Dulu proses mencari ikan tidak menggunakan jaring melainkan menggunakan akar pandan, cara ini kini sudah dilakukan, tetapi ritualnya tetap kita laksanakan," katanya.
Kepala Bidang Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan (Disbudpar) Gunung Kidul Eli Martono mengatakan sudah ada beberapa acara ritual adat di yang digelar di Gunung Kidul sudah dimaskukan dalam jadwal pertunjukan budaya.
Eli mengungkapkana, hingga saat ini sudah ada sekitar 15 kegiatan atrasi budaya di Gunung Kidul yang masuk dalam agenda Disbudpar.
"Atraksi budaya yang penyelenggaraanya tidak berubah-ubah, sudah kita masukan dalam kalender kegiatan tahunan," kata Eli.
(KR-STR)
