Kerajinan wayang kulit Bantul tembus Singapura

id wayang

Wayang kulit (Foto ANTARA/Nur Kartika/ags/13)

Bantul (Antara Jogja) - Kerajinan wayang kulit, barang yang dimainkan dalang dalam seni pertunjukan drama khas Indonesia asal Pedukuhan Kepek, Desa Timbulharjo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, diminati warga Singapura.

"Saya pernah mendapat pesanan dari warga Singapura untuk membuat wayang kulit Singapura-nan kurang lebih 50 tokoh (wayang)," kata perajin wayang kulit Kepek, Desa Trimbulharjo, Sri Kundono di Bantul, Jumat.

Menurut dia, pesanan wayang kulit dari warga Singapura itu dialami pada 2013 melalui salah satu rekannya, seniman dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, yang sebelumnya pernah mementaskan wayang di negara tersebut.

"Yang memesankan Mas Manto teman seniman dari ISI Yogyakarta yang pernah mangadakan pegelaran wayang Indonesia di Singapura, saat ini (wayang) sudah semua dikirim ke Singapura," kata dia yang akrab di panggil Tutun.

Pria yang pernah mengenyam pendidikan di ISI Yogyakarta Jurusan Pedhalangan ini mengatakan, sebenarnya negara Singapura tidak memiliki seni pewayangan, tidak seperti Indonesia yang sering ada pertunjukan untuk mengisahkan legenda Indonesia.

Dengan demikian, kata dia, pria berusia 36 tahun yang dikarunia satu anak ini hanya membuatkan wayang kulit menyerupai tokoh-tokoh yang diperankan dalam cerita atau legenda Singapura yang dirinya terima dari warga Singapura.

"Jadi warga Singapura mempunyai cerita legenda penduduk sana yang ditunjukkan dalam foto dan drama panggung, kemudian saya ubah menjadi wayang beragam tokoh, di antaranya tokoh raflesia dan superman," katanya.

Ia mengatakan, sebelum menggeluti usaha membuat kerajinan wayang pada 1999 ini awalnya hanya hobi menggambar wayang berbagai tokoh dalam pewayangan Indonesia, namun karena wayang juga diminati warga sebagai koleksi, maka dirinya mencoba mengkomersilkan.

Meski memutuskan untuk menjual produk kerajinan wayang, namun dirinya mengaku membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan pesanan, sebab pesanan pertama datang pada 2003 sampai 2007 dari anggota DPRD Bantul sebanyak 300 tokoh.

"Kemudian pada 2007 sampai 2009 mendapat pesanan dari Kota Yogyakarta, setelah itu wayang Singapura ini pada 2013. Yang terakhir saya dapat pesanan dari ISI Yogyakarta sebanyak 500 tokoh, dan sampai sekarang belum selesai," katanya.

Ia mengatakan, wayang kulit produksinya dijual dengan harga mulai dari Rp50 ribu sampai Rp2 juta per buah, tergantung model dan pewarnaan, karena untuk pewarnaan ada yang menggunakan cat biasa, namun ada yang berbahan perak hingga emas.

KR-HRI
Pewarta :
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar