Gunung Kidul (Antara Jogja) - Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengharapkan masyarakat agar tidak memanfaatkan gua baru sebagai objek wisata sebelum ada kajian dari pihak berwenang.
Kepala Disbudpar Kabupaten Gunung Kidul Saryanto di Gunung Kidul, Selasa, mengatakan temuan gua baru harus dilaporkan terlebih dahulu kepada pihak berwenang untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan.
"Kami tidak ingin ada kejadian yang sama seperti di Gua Bukit Ngembong, Seropan, Bejiharjo, Karangmojo, yang menelan satu korban tewas," kata Saryanto.
Ia mengatakan kajian ini dapat dilakukan Kantor Pengendalian Dampak Lingkungan, Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL), dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL).
"Bisa juga melalui kajian ahli gua, sehingga jangan sampai menemukan gua lalu dijadikan objek wisata. Perlu dilihat sisi keamanannya," kata dia.
Saryanto mengatakan lokasi gua di Bukit Ngembong tidak ada laporan yang masuk. Pemilik lahan hanya melihat potensi yang ada tanpa mempedulikan keselamatan dan apakah gua tersebut layak dijadikan objek atau tidak.
"Gua itu hanya biasa tidak memiliki keunikan, sehingga kalau dijual belum tentu laku," katanya.
Untuk itu, dia berharap masyarakat tidak hanya bereuforia pendirian destinasi wisata, namun memperlihatkan aspek lainnya. Selain itu diperlukan pendampingan dari instansi terkait.
"Perlu koordinasi dengan pemerintah, sehingga sudah dikaji, apakah lokasi tersebut bisa digunakan sebagai objek wisata atau tidak," kata dia.
Sebelumnya, Kepolisian Sektor Karangmojo menutup gua baru di Bukit Ngembong, Desa Bejiharjo, yang telah menyebabkan korban jiwa, Joparto (70).
"Hal ini untuk mengantisipasi ambrolnya tanah di sekitar gua di Bukit Ngembong, Bejiharjo, Karangmojo. Kami menutupnya sampai penyelidikan selesai, dan tidak terbatas waktunya," katanya Kapolsek Karangmojo AKP Iriyanto.
Irianto mengatakan pihaknya memasang garis polisi agar masyarakat tidak mendekati lokasi karena diperkirakan batuan masih labil bisa ambrol sewaktu-waktu.
"Kami sudah memasang garis polisi agar warga tidak mendekat," kata dia.
Sampai saat ini pihaknya meminta keterangan kepada masyarakat yang ikut menambang bersama Joparto (70) satu-satunya korban tewas yang tertimpa batu. Keterangan ini diperlukan untuk mengetahui kronologis, siapa yang bertanggung jawab penambangan tersebut.
"Saat ini seluruh saksi sedang dimintai keterangan terkait ambrolnya gua," kata Iriyanto.
(KR-STR)
