Jakarta (ANTARA) - “Kata ini mestinya ditulis kapitil,” ujar Tiara Puspanidra, seorang dosen kepada mahasiswa yang tengah bimbingan penyusunan skripsi pada Kamis pagi, 8 Januari 2026.
Suasana ruang sepi, sehingga ujaran itu terdengar jelas. Mahasiswa itu mafhum. Ia memahami makna kapitil, tampak dari anggukan kepalanya. Anggota masyarakat mulai menggunakan kata kapitil untuk menyampaikan pesan dalam komunikasi.
Baru-baru ini, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (selanjutnya ditulis Badan Bahasa) menambah lema kapitil dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Arti kata baru itu adalah kecil, mengacu pada penulisan huruf seperti a, b, dan c, namun, sepekan terakhir banyak akun media sosial yang menyoal keputusan untuk memasukkan lema kapitil ke dalam kamus. Entri baru itu antonim kapital merujuk pada besar (penulisan huruf A, B, C, dan seterusnya).
Sepanjang 2025 Badan Bahasa menambah 3.259 lema baru, sehingga jumlah keseluruhan entri mencapai 210.595. Dari ribuan entri baru, lema kapitil menyedot perhatian publik. Reaksi masyarakat terbelah, ada yang pro, muncul juga kontra terhadap kata kapitil.
Harus diingat, KKBI juga menambahkan kata cak. pada lema itu, menandakan bahwa kapitil itu digunakan dalam bahasa tidak baku atau percakapan sehari-hari. Meski begitu, tetap saja ada yang kontra. “Seminggu ini kami betul-betul disibukkan dengan masalah entri kapitil ini,” ujar Kepala Redaksi KBBI Dewi Puspita.
Baca juga: Kemendikdasmen: Sistem manajemen KBBI sudah memanfaatkan AI
Badan Bahasa lazimnya menggunakan lima saringan, ketika menetapkan satu lema di KBBI, yakni unik, eufonik, sesuai kaidah bahasa Indonesia, kerap dipakai, dan tidak berkonotasi negatif.
Apakah kapitil unik atau belum memiliki makna dalam bahasa Indonesia? Ya, kapitil memenuhi syarat itu. Meski kita dapat menggunakan bentuk nonkapital untuk menyebut huruf kecil.
Sementara kata onderkas yang bemakna sama, jarang sekali terdengar dalam komunikasi sehari-hari. Kata pinjaman dari bahasa Belanda itu sejatinya lebih bersifat formal.
Kriteria kedua, eufonik, dalam penetapan kapitil masih nisbi. Bagi sebagian orang, kapitil mungkin tidak enak didengar. Mereka menganggap kapitil tidak eufonik.
