Yogyakarta (Antaranews Jogja) - Dosen Departemen Teknologi Hasil Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Ragil Widyorini berhasil mengolah kotoran gajah menjadi papan komposit yang kualitasnya tidak kalah dengan papan komposit di pasaran.
"Kotoran gajah mengandung serat selulosa dari rumput gajah yang dimakan sehingga bisa digunakan sebagai bahan membuat komposit," kata Ragil saat ditemui di Laboratorium Rekayasa Biomaterial Fakultas Kehutanan UGM, Yogyakarta, Rabu.
Menurut Ragil, gagasan untuk membuat papan komposit dari kotoran gajah muncul saat seorang karyawan di Taman Safari Pasuruan yang juga alumni Fakultas Kehutanan UGM Agus Sudibyo mengeluhkan kesulitan mengolah kotoran gajah.
Kendati akhirnya dimanfaatkan sebagai pupuk serta diolah menjadi kertas, namun kotoran gajah itu masih menggunung sehingga diperlukan terobosan lain untuk mengolahnya.
Setelah mengetahui bahwa kotoran gajah di Taman Safari memiliki kandungan serat selulosa yang memiliki daya rekat kuat, Ragil lalu mencoba memanfaatkannya sebagai bahan pembuatan komposit yang bermanfaat untuk furnitur.
Menurut dia, gajah hanya bisa mencerna 30-45 persen makanan, sehingga 55-70 persen makanan berserat tidak tercerna. "Karena gajah di Taman Safari memakan rumput gajah yang mengandung serat selulosa, setelah dibuat komposit ternyata hasilnya lebih bagus lebih kuat," kata dia.
Ragil menjelaskan untuk membuat papan komposit dari kotoran gajah, dibutuhkan beberapa tahapan. Langkah pertama, dengan membersihkan kotoran gajah menggunakan air mengalir. Selanjutnya, kotoran yang telah dibersihkan, dijemur hingga kering untuk menghindari tumbuhnya jamur.
Setelah itu, kotoran dicampur dengan perekat kemudian dioven dalam suhu 80 derajat Celcius selama beberapa jam untuk mengurangi kadar air didalamnya. Kemudian hasil ovenan kotoran dicetak dan dikempa panas dengan suhu 180-200 derajat Celsius selama 10 menit.
Saat ini Ragil bersama mahasiswa di Laboratorium Rekayasa Biomaterial Fakultas Kehutanan UGM membuat papan komposit serat kotoran gajah dalam bentuk display berukuran 25x25 cm dengan ketebalan 1 cm.
"Untuk pembuatan papan komposit dengan ukuran tersebut membutuhkan 500 gram bahan yang terdiri dari sekitar 400 gram kotoran gajah dan 100 gram perekat dari berat kering partikel," kata dia.
Gajah dalam sehari bisa menghasilkan kotoran hingga sekitar 100 kg dan dari jumlah tersebut sangat berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan papan komposit. Dengan demikian dari 1 ekor kotoran gajah dapat dihasilkan sekitar 6-7 papan komposit 1x1 meter setiap harinya.
Dalam pembuatan papan komposit dari kotoran gajah ini Ragil menggunakan perekat berbasis asam sitrat yang dikembangkan oleh Fakultas Kehutanan UGM bersama dengan Universitas Kyoto. Dengan penggunaan perekat tersebut terbukti mampu menghasilkan produk yang lebih berkualitas dibandingkan dengan menggunakan perekat urea formaldehida yang biasa digunakan dalam produksi papan komposit di pasaran.
Setelah melalui serangkaian penelitian untuk memperoleh formula yang tepat dan uji coba sejak 2014 silam ini akhirnya dihasilkan papan komposit yang sesuai standar SNI. Hasil uji lengkung, uji tarik, uji lengkung basah, dan uji rendam menunjukkan papan komposist serat kotoran gajah memiliki kualitas diatas standar yang ditentukan oleh Japanese Industrial.
Menurut dia, papan komposit dari kotoran gajah ini tidak hanya ramah lingkungan dan berkualitas bagus. Namun, produk ini diharapkan dapat menjadi pilihan alternatif pengganti papan pabrikan.
"Papan komposit serat kotoran gajah ini berpotensi untuk digunakan sebagai furnitur dan dinding pembatas rumah," kata dia.
Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat dan Kerja Sama Fakultas Kehutanan UGM Muhammad Ali Imron menyebutkan papan komposit serat gajah yang dikembangkan peneliti Fakultas Kehutanan UGM ini memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut dan diproduksi dalam skala besar. Terlebih melihat potensi kotoran gajah yang cukup berlimpah.
"Gajah itu `grazer` atau pemakan rumput dalam jumlah besar sehingga kotoran yang dihasilkan pun juga banyak sehingga sangat potensial untuk diolah menjadi bahan baku papan komposit," kata pakar konservasi satwa liar ini.
Menurut Imron, apabila produk papan komposit ini berhasil dikembangkan dalam skala yang lebih besar diharapkan tidak hanya dapat digunakan sebagai salah satu alternatif papan komposit saja. Namun, juga diharapkan bisa mendorong upaya pelestarian gajah di alam.
"Jadi, masyarakat yang membeli produk ini nantinya tidak hanya membeli secara fisik saja, tetapi lebih ke nilainya. Dengan pembelian ini keuntungannya disisihkan untuk konservasi gajah di alam," kata dia.
