Gunung Kidul mempertahankan SD Wonolagi yang berada di daerah terpencil

id SD Wonolagi,sekolah terpencil gunung kidul

SD Wonolagi Desa Ngleri, Kecamatan Playen, yang berada di pinggiran dan terpencil tetap dipertahankan untuk memberikan pendidikan anak di wilayah itu. (Foto ANTARA/Sutarmi)

Gunung Kidul (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mempertahankan Sekolah Dasar Negeri Wonolagi, Desa Ngleri, Kecamatan Playen, yang memiliki 11 siswa karena berada daerah terpencil dan jauh dari pusat kota.

"Kami tetap mempertahankan Sekolah Dasar Negeri Wonolagi yang berada di Dusun Wonolagi yang merupakan dusun terpencil," kata Kepala Dinas Pendidikan Pemuda Olahraga (Disdikpora) Gunung Kidul Bahron Rosyid di Gunung Kidul, Selasa.

Ia mengatakan saat ini, pihaknya tidak akan melakukan regrouping SD Wonolagi ke sekolah lain. "Saat ini belum ada rencana ke arah sana (regrouping). Tapi bila suatu saat transportasi di sana sudah baik bisa juga di regrouping ke sekolah terdekat," katanya.

Meski hanya 11 orang, lanjut Bahron, kualitas pendidikan yang diberikan kepada anak didik tidak akan berbeda dengan sekolah lainnya.

"Untuk pembelajaran sama saja, kalau gurunya pas kurang bisa melakukan pembelajaran dengan sistem sistem kelas rangkap. Artinya satu guru bisa mengajar dua kelas dengan tugas berbeda di satu ruangan," katanya.

Kepala Pengampu Sekolah SD N Wonolagi, Karetas Marsudiyanti mengatakan tahun ini memang SD Negeri Wonolagi tidak mendapatkan murid kelas I, karena di Dusun Wonolagi memang tidak ada anak usia 7 tahun atau lulusan TK.

Saat ini, jumlah seluruh siswa SD Negeri Wonolagi sebanyak 11 orang. Adapun ke 11 siswa ini merupakan siswa kelas II sebanyak 4 orang, Siswa kelas III sebanyak 3 orang, dan kelas IV sebanyak 4 orang.

"SD N Wonolagi merupakan sekolah khusus yang diperuntukkan bagi warga dusun Wonolagi. Sebab, wilayah ini merupakan dusun terpencil dan jauh dari pusat kota," katanya.

Ia mengatakan Dusun Wonolagi jauh dari wilayah lain, paling dekat dengan Desa Ngleri harus melewati hutan sejauh 5 km ke selatan, untuk sisi utara ke dusun Pengkok, Patuk. November 2017 lalu, saat badai cempaka, jembatan gantung rusak parah, dan hingga kini belum diperbaiki. Total ada 47 kepala keluarga yang ada di Dusun Wonolagi.

"Sekolah ini merupakan sekolah khusus karena dusun ini jauh dari sekolah dasar lain. Kalau mau ke Patuk harus melewati sungai, sementara mau ke Ngleri harus melewati hutan sejauh kurang lebih 5 km," kata,

SD N Wonolagi sempat tidak menerima siswa baru karena akan di regrouping dengan sekolah lain pada tahun 2014 dan 2015. Namun waktu itu Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X tidak memperbolehkan. Berapapun siswa di sekolah ini harus tetap dilaksanakan belajar mengajar. "Tahun ini tidak ada murid baru karena memang tidak ada yang mendaftar," ucapnya.

Meski memiliki murid sedikit, tak ada perbedaan cara pengajaran dengan sekolah lainnya. Namun diakuinya untuk sarana dan prasarana memang minim, misalnya tidak ada proyektor untuk tambahan pembelajaran.

"Anggaran sendiri memang hanya mengandalkan Bantuan Operasional Siswa (BOS), padahal hal itu berkaitan dengan jumlah siswa. Artinya, jika siswa sedikit maka penerimaan anggaran pun minim. Ada empat orang guru yang mengampu sekolah tersebut, sehingga cukup layak untuk pembelajaran," katanya.
Baca juga: Disdik Yogyakarta melarang perpeloncoan selama PLS

 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar