DKP Kulon Progo mendorong pembudi daya ikan menerapkan "Bule Kolbu"

id Bule kolbu,Kulon Progo

Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mendoronh budi daya lele menerapkan sistem kolam bulat atau disingkat "Bule Kolbu" dalam rangka intensifikasi perikanan. Cara ini efektif dongkrak produksi lele. (Foto ANTARA/Sutarmi)

Kulon Progo (ANTARA) - Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mendorong pembudi daya lele menerapkan sistem kolam bulat atau disingkat "Bule Kolbu" untuk intensifikasi perikanan.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kulon Progo Sudarna di Kulon Progo, Selasa, mengatakan "Bule Kolbu" ini untuk menyesuaikan dengan sumber daya air.

"Di Kulon Progo dari sisi potensi air relatif kurang, sehingga kami mencarikan teknologi bagaimana budi daya terus berkesinambungan dalam keterbatasan air," kata Sudarna.

Ia berharap keterbatasan air tidak menghambat dalam menumbuhkan budi daya ikan di tengah masyarakat. Sehingga, bagaimana menyiasati kebutuhan optimal untuk lingkungan hidup ikan tetap terjaga.

"Bule kolbu ini supaya kualitas lingkungan terjaga, dan kolam dibuat sedikian rupa dipadukan dengan teknologo sentral drain untuk mengelola kualitas air. Kita bisa mengeluarkan kotoran ikan itu, sehingga tidak harus membuang air secara keseluruhan untuk membersihkan kotoran ikan," katanya.

Kemudian dari sisi prospeknya, lanjut Sudarna, hampir di 12 kecamatan di Kabupaten Kulon Progo, pembudi daya ikan hampir secara keseluruhan menerapakan bule kolbu. Selain itu, DKP juga sudah mendorong budi daya gurami dengan kolam bulat.

"Dua jenis ikan yang potensi dengan sistem kolam bulat, yakni lele dan gurami karena relatif tahan terhadap kondisi air yang tidak banyak kandungan oksigen," katanya.

Sudarna mengatakan dari sisi produksi, sistem itu harus dilakukan dengan padat tebar. Kepadatan volume air harus dimanfaatkan. Minimal, volume satu kubik air sudah ditebari 500 ekor benih ikan.

"Artinya, kepadatan tebar jauh meningkat dibanding dengan budi daya konvensional," katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Perikanan Budi Daya Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kulon Progo Leo Handoko mengatakan usaha budi daya ikan dengan sistem bule kolbu berkembang di Kecamatan Kalibawang dan Galur. Biaya yang dibutuhkan untuk diameter tiga berkisar Rp1,7 juta hingga Rp2 juta, kemudian diameter dua berkisar Rp1,3 juta sampai Rp1,5 juta.

Ke depan, Leo mengharapkan sistem bule kolbu ini bisa padat tebar antara 5 ribu sampai 6 ribu ekor untuk diameter 3. Saat ini, pada tebar masih di bawah 500 ekor, sehingga belum bisa dikatakan sebagai usaha.

"Kepadatan berbanding lurus dengan modal. Di luar Kulon Progo diamater dua diisi 3 ribu ekor atau sama dengan ukuran 4×6 yang dikembangkan masyarakat Kulon Progo. Kami mendorong pembudi daya ikan berani bermain kepadatan tebar," katanya
 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar