Rektor: UWM bersifat subtitutif

id uwm, rektor

Rektor: UWM bersifat subtitutif

Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) Prof Edy Suandi Hamid pada Rapat Senat Terbuka dalam rangka Dies Natalis Ke-37 UWM (HO-Humas UWM)

Yogyakarta (ANTARA) - Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta bersifat subtitutif dan seharusnya menjadi pilihan yang memiliki pembeda jelas dengan perguruan tinggi lain, kata Rektor UWM Prof Edy Suandi Hamid.

"Ada posisi yang jelas, bersifat unik dan spesifik sarat dengan penguatan karakter dan budaya," katanya pada Rapat Senat Terbuka dalam rangka Dies Natalis Ke-37 UWM di Pendopo nDalem Mangkubumen, Yogyakarta, Senin.

Menurut dia, sebagai suatu perguruan tinggi yang kini hidup di masa Revolusi Industri 4.0 dengan berbagai turunannya, tentu UWM ingin melahirkan lulusan yang profesional sesuai bidangnya dengan segala kompetensinya.

Dalam aspek program prioritas, Edy mengemukakan, ada beberapa program yang akan dilaksanakan di antaranya mewujudkan visi dalam balutan budaya, mewujudkan tata pamong yang kredibel, transparan, akuntabel, bertanggung jawab, dan adil.

Kemudian melakukan restrukturisasi untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi kinerja, menegakkan penjaminan mutu akademik dan nonakademik, melaksanakan pentahapan sasaran mutu, sehingga terjadi peningkatan mutu, dan mempercepat realisasi pembangunan kampus baru yang telah dicanangkan.

"Dies Natalis ini sebagai memontum mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, sehingga penyelenggaraan pendidikan di UWM secara konsisten dapat memberikan kontribusi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa," kata mantan Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI) itu.

Ia mengatakan UWM yang didirikan pada Kamis Legi, 7 Oktober 1982 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan KGPH Mangkubumi (sekarang bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono X) sebagai wujud nyata sumbangan beliau bagi pembangunan bangsa dan negara dalam bidang pendidikan.

Berdasarkan sejarah, kata Edy, diharapkan UWM mampu menghasilkan sarjana, calon pemimpin bangsa yang senantiasa memegang teguh prinsip "hamemayu hayuning bawana" atau bersahabat dan menjaga kelestarian alam.

UWM juga harus menghasilkan pemimpin berwatak kesatria, bersikap golong gilig, dan "sengguh ora mingkuh". 

Ia mengemukakan, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, saat pembukaan kampus ini, menyatakan "Saya mendirikan Universitas Widya Mataram ini tidak untuk menambah deretan panjang jumlah perguruan tinggi di Yogyakarta, tetapi saya ingin memberikan alternatif bagi dunia pendidikan di Indonesia".

Beliau juga mengharapkan UWM sebagai laboratorium pendidikan budaya, melengkapi UGM sebagai laboratorium pendidikan nasional di Yogyakarta ini.

"Menurut persepsi saya, (Alm) Sri Sultan Hamengku Buwono IX berharap UWM bukan sekadar hadir dan ada dalam blantika perguruan tinggi di Indonesia, tetapi menjadi alternatif," katanya.

"Suatu pilihan dengan keunikan dan kekhasan yang mungkin tidak fokus di kampus lain yakni pendidikan berbasis budaya yang melahirkan insan-insan berkarakter kemataraman dan keindonesiaan," kata Edy.

Sementara itu, Ketua Yayasan Mataram Yogyakarta (YMY) Prof Mohammad Mahfud mengatakan UWM hadir untuk menjadi pelopor pendidikan yang berkemanusiaan, cinta Tanah Air, berakhlak, taat beragama di negara Pancasila, dan penuh gotong-royong.

"Hal yang tidak kalah pentingnya adalah memanusiakan manusia dengan tidak hanya mencerdaskan otak, karena tujuan negara itu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan mencerdaskan otak," katanya.
Pewarta :
Editor: Luqman Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar