Yogyakarta (ANTARA) - Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof Noorhaidi Hasan menekankan pentingnya kreativitas dan komitmen untuk terus mengembangkan diri serta daya adaptif dalam menghadapi perubahan zaman yang ditandai dengan perkembangan teknologi dan digitalisasi.
"Meskipun banyak pekerjaan yang hilang akibat ekspansi sains dan teknologi, ribuan peluang baru juga tercipta. Oleh karena itu, yang diperlukan adalah kesiapan untuk terus belajar dan berkembang," katanya pada Sidang Senat Terbuka dalam rangka Wisuda Sarjana, Magister, dan Doktor Periode II Tahun Akademik 2024/2025 di Bantul, Jumat.
Oleh karena itu, kata dia, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta berkomitmen untuk menjadi perguruan tinggi yang unggul dan bereputasi global.
Dia mengatakan, proses akreditasi ASIIN (Accreditation Agency for Degree Programs in Engineering, Informatics, Natural Sciences, and Mathematics) Jerman yang sedang berlangsung menjadi cerminan komitmen universitas dalam menjamin mutu pendidikan dan mendapatkan pengakuan internasional.
"Kiprah para lulusan juga menjadi bagian penting dalam upaya terus meningkatkan kualitas akademik kampus ini," katanya.
Rektor UIN Sunan Kalijaga memberikan apresiasi dan rasa bangganya terhadap para wisudawan yang telah menyelesaikan studi mereka.
"Saudara termasuk dalam tujuh persen masyarakat Indonesia yang menempuh dan menyelesaikan pendidikan tinggi. Ini merupakan sebuah pencapaian yang patut disyukuri. Namun, wisuda ini bukanlah akhir perjalanan, melainkan gerbang menuju tantangan baru," katanya.
Pada wisuda kali ini UIN mewisuda sebanyak 974 lulusan terdiri dari 637 orang wisudawan lulus Sarjana (S1), sebanyak 326 orang wisudawan lulus Program Magister (S2), dan sebanyak 11 orang wisudawan lulus Program Doktor (S3).
Sementara itu, Yuanggan Kurnia Yahya, mewakili wisudawan, mengatakan keberhasilan ini bukan sekadar pencapaian akademik, tetapi awal dari perjalanan baru di dunia profesional dan sosial. Karena itu, para wisudawan agar tetap rendah hati dan terus belajar di mana pun mereka berada.
"Kita akan berjuang dalam bentuk yang berbeda, karena setelah lulus, saatnya kita mengabdikan diri kepada ibu pertiwi. Indonesia tidak pernah kekurangan orang pintar, tetapi negeri ini sangat membutuhkan individu yang bijak dan bajik," katanya.