Bupati Sleman dorong ekonomi Sleman Barat lewat penggunaan lurik

id Sleman Barat,Sleman,Lurik,Perkembangan ekonomi,Disperindag Sleman

Bupati Sleman dorong ekonomi Sleman Barat lewat penggunaan lurik

Bupati Sleman Harda Kiswaya memegang lurik produksi perajin lurik di Sentra Industri Lurik Moyudan. ANTARA/HO/Dwi Wulandari

Sleman (ANTARA) - Bupati Sleman Harda Kiswaya terus mendorong ekonomi masyarakat, salah satunya dengan mengeluarkan Surat Edaran Nomor 0247 Tahun 2025 yang mengatur penggunaan pakaian dinas berbahan lurik di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman.

Langkah itu, kata Harda, di Sleman, Rabu (21/5), bertujuan membangkitkan industri kerajinan lurik di Sentra Lurik Kapanewon Moyudan, sehingga diharapkan dapat mendorong perkembangan ekonomi di wilayah tersebut.

Harda Kiswaya mengungkapkan wilayah Sleman Barat berdasarkan tata ruang, merupakan kawasan hijau yang tidak dapat dikembangkan menjadi kawasan industri besar. Oleh karena itu, Pemkab Sleman memilih untuk memanfaatkan potensi produk lokal, yaitu lurik, sebagai komitmen untuk mengangkat ekonomi daerah.

Ia menegaskan, setiap Aparatur Sipil Negara (ASN) di Pemkab Sleman diwajibkan menggunakan lurik setiap Kamis dan Jumat, serta pada Sabtu untuk unit kerja yang beroperasi enam hari dalam seminggu.

"Lurik adalah produk unggulan Kabupaten Sleman. Melalui kebijakan ini, kami ingin agar ASN dan non-ASN dapat mendukung perajin lokal dan mempromosikan produk batik serta lurik hasil karya pengrajin Sleman. Ini diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan mereka," kata Harda.

Baca juga: Bupati dukung perajin batik dan lurik Sleman mengembangkan kreativitas

Tidak hanya mempromosikan penggunaan lurik di lingkungan pemerintahan, Pemkab Sleman juga berkomitmen terus mengembangkan produk batik dan lurik dari perajin lokal agar bisa menembus pasar nasional bahkan global.

Sebagai langkah konkret, Pemkab Sleman telah melaksanakan berbagai kegiatan pembinaan berkelanjutan, termasuk pelatihan teknis bagi pemula dan lanjutan, serta pendampingan dalam penjualan dan promosi produk.

Dukungan terhadap kebijakan ini juga datang dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman.

Kepala Bidang Industri Disperindag Dwi Wulandari menyatakan, pihaknya sangat mendukung langkah Bupati Harda Kiswaya dan Wakil Bupati Danang Maharsa untuk mewajibkan ASN dan non-ASN menggunakan lurik.

Menurutnya kebijakan ini tidak hanya sebagai bentuk dukungan terhadap industri kerajinan lurik, tetapi juga sebagai langkah untuk menyelamatkan dan menghidupkan kembali sentra-sentra lurik di wilayah Sleman Barat yang semakin tergerus.

"Lurik merupakan produk unggulan industri kecil menengah (IKM) di Sleman. Dengan kebijakan ini, kami berharap dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan membantu mengurangi angka kemiskinan," tutur Dwi.

Baca juga: Festival Fesyen Sleman 2019 mengangkat industri kreatif lokal lurik batik

Selain itu, Disperindag Sleman telah melakukan berbagai upaya untuk mendukung pengembangan kerajinan lurik, di antaranya dengan memberikan pelatihan pembuatan dan pengembangan desain lurik.

Mereka juga berkoordinasi dengan Disperindag DIY untuk memberikan bimbingan teknis (bimtek) kepada perajin lurik di Moyudan. Salah satu bentuk dukungan lainnya adalah pemberian hibah mesin jahit untuk pembuatan produk turunan lurik.

Untuk lebih meningkatkan kualitas produk, Disperindag Sleman juga memfasilitasi studi banding bagi perajin lurik ke Lombok pada tahun 2014 untuk mempelajari pembuatan tenun ikat, yang kemudian diterapkan pada produksi lurik lokal.

Baca juga: Generasi muda Sleman mulai meninggalkan tenun

Selain itu, Pemkab Sleman juga memfasilitasi promosi produk kerajinan lokal melalui pameran lokal dan menjual produk IKM di berbagai galeri, seperti Dekranasda Sleman dan Omah Jadah Kaliurang.

Dalam upaya memperluas jangkauan pasar, Disperindag juga memberikan kemudahan bagi ASN dan non-ASN untuk membeli lurik secara langsung di lokasi yang lebih dekat, yakni di PLUT Sleman.

Mereka bahkan telah berkolaborasi dengan salah satu BUMD untuk menyediakan alat tenun otomatis berbasis listrik guna mempercepat produksi lurik.

"Dengan alat tenun otomatis ini, kami berharap produksi lurik semakin meningkat dan dapat memenuhi permintaan yang semakin tinggi," tutup Dwi Wulandari.

Baca juga: Perajin Lurik Sleman terkendala pemasaran

Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.