Yogyakarta (ANTARA) - Setiap tanggal 29 Juni, Bangsa Indonesia memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas) sebagai momen refleksi penting tentang arti keluarga dalam pembangunan bangsa.
Tahun ini, peringatan Harganas ke-32 kembali digelar secara serentak di seluruh Indonesia, termasuk di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dengan nuansa kultural: mengenakan pakaian adat sebagai simbol persatuan dalam kebinekaan.
Namun, tahukah alasan penetapan tanggal 29 Juni sebagai Hari Keluarga Nasional, karena tentu bukan sekadar angka? Tanggal ini memiliki akar sejarah yang sangat bermakna, terutama bagi masyarakat Yogyakarta.
Baca juga: GKR Hemas : Penyuluh KB penentu keberhasilan Program Bangga Kencana
Jogja Kembali, momentum pulang dan berkumpul dengan keluarga
Mari menengok ke belakang, tepatnya pada 29 Juni 1949. Saat itu, Kota Yogyakarta menjadi saksi bisu berakhirnya pendudukan militer Belanda.
Setelah melalui perjuangan panjang baik secara diplomatik maupun bersenjata, Belanda akhirnya menarik pasukan terakhirnya dari Yogyakarta menuju arah Magelang.
Peristiwa ini menandai kembalinya para pejuang, baik yang bergerilya maupun yang sempat ditawan Belanda, dapat Kembali pulang ke rumah mereka masing-masing dan berkumpul bersama keluarga.
Kegembiraan dan haru karena bisa kembali berkumpul dengan keluarga menjadi momen yang sangat emosional. Inilah yang kemudian dikenal dalam sejarah sebagai "Jogja Kembali."
Momen ini pula yang menginspirasi Dr. Haryono Suyono, kala itu menjabat sebagai Kepala BKKBN, untuk mengusulkan tanggal 29 Juni sebagai Hari Keluarga Nasional.
Usulan ini kemudian disetujui oleh Presiden Soeharto dan peringatan Harganas pertama kali dilakukan pada tahun 1993 di Provinsi Lampung.
Baca juga: BKKBN DIY menggandeng RSIY PDHI dalam pelayanan serentak 14 ribu akseptor
Perwakilan BKKBN DIY telah memulai rangkaian kegiatan sejak awal Juni. Salah satu momen pentingnya adalah titik temu kirab kontingen Penyuluh KB dari Jawa Tengah dan Jawa Timur di kompleks Candi Prambanan pada 24 Juni lalu.
Ada juga Upacara Harganas di Halaman Kantor BKKBN DIY, dengan seluruh pegawai mengenakan pakaian adat. Kepala Perwakilan BKKBN DIY Mohamad Iqbal Apriansyah, bertindak sebagai pembina upacara dan membacakan sambutan dari Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Wihaji.
“Keluarga adalah pondasi utama dalam pembangunan bangsa. Keluarga yang kuat dan harmonis akan melahirkan generasi yang berkualitas, berakhlak mulia, dan memiliki kemampuan untuk bersaing di era global. Oleh karena itu, pembangunan keluarga menjadi sangat penting dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045,” ujar Wihaji dalam sambutannya.
Baca juga: Kepala BKKBN sebut hubungan toksik salah satu penyebab perceraian
Wihaji juga mengingatkan bahwa menuju Indonesia Emas 2045, keluarga harus mampu menghadapi berbagai tantangan seperti perubahan iklim, kesenjangan sosial, dan revolusi teknologi.
Di sisi lain, peluang besar seperti bonus demografi dan kemajuan teknologi harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga.
Peringatan puncak Harganas tingkat Provinsi DIY sendiri, akan digelar pada 16 Juli 2025, dengan Kabupaten Sleman sebagai tuan rumah. Sebelumnya, akan dilangsungkan berbagai lomba internal antarpegawai pada Jumat, 4 Juli 2025 sebagai bagian dari rangkaian peringatan.
Baca juga: Bupati Sleman imbau ciptakan lingkungan aman dan nyaman bagi anak
*FX Danarto SY, merupakan Pranata Humas Kemendukbangga/BKKBN DIY

