Berobat tanpa cemas dengan JKN

id berobat,tanpa,cemas,program,JKN,bpjs kesehatan,sleman,infeksi tuba falopi, diabetes melitus

Berobat tanpa cemas dengan JKN

Ari Cynthia Kasmiranti (41) menunjukkan kartu BPJS Kesehatan. ANTARA/Nur Istibsaroh

Yogyakarta (ANTARA) - Ari Cynthia Kasmiranti (41), warga Tumut, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta tidak pernah menyangka bahwa sakit perut yang ia rasakan beberapa hari terakhir ternyata berasal dari tuba falopi yang membengkak dan dipenuhi cairan bernanah.

Sakit yang semula dianggap ringan, perlahan berubah menjadi mimpi buruk yang “menyerang” hampir setiap malam berupa rasa nyeri yang tidak pernah bisa ditahan.

“Awalnya saya kira cuma kista. Dulu waktu sebelum punya anak, memang pernah periksa dan ada kista. Tapi setelah dicek lebih lanjut, ternyata ini sudah tuba falopi-nya yang sakit dan membesar. Kata dokter normalnya dua, ini punya saya delapan. Bentuknya juga sudah bengkok,” ujar Ari saat ditemui di ruang rawat inap salah satu Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) di Sleman, Kamis (30/7).

Ari menceritakan bagaimana nyeri itu datang bertubi-tubi, mulai dari perut sebelah kiri menjalar ke punggung, mirip seperti sakit saat menstruasi namun lebih hebat. Dalam beberapa hari, Ari terpaksa bolak-balik meminum obat pereda nyeri, hingga akhirnya memutuskan untuk ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dan dirujuk ke FKRTL

“Sudah tidak tahan. Malam Jumat sakit, malam Sabtu sakit, malam Minggu juga. Sampai Senin sore saya masih menahan sakit dan akhirnya ke puskesmas lalu dirujuk ke rumah sakit. Tapi begitu sampai rumah sakit, disuntik anti-nyeri pun belum mempan,” kenangnya.

Setelah pemeriksaan mendalam, barulah ditemukan bahwa penyebab nyeri tersebut adalah infeksi pada tuba falopi. Ari harus menjalani rawat inap selama lima hari untuk menerima antibiotik secara intensif.

Di balik perjuangannya melawan sakit, Ari menyimpan cerita bahwa ia baru pertama kali menggunakan jaminan dari BPJS Kesehatan yang diberikan oleh pemerintah. Dulunya ia hanya memegang Jamkesda dan Jampersal, tapi belum pernah digunakan.

“Saya menjadi merasa tidak takut setelah terdaftar menjadi peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Dulu, sebelum terdaftar JKN takut periksa. Setelah terdaftar menjadi peserta JKN jadi tidak takut untuk periksa. Seperti kemarin, sebenarnya saya cuma mau coba-coba JKN-nya buat cek tensi. Eh, ternyata waktu dicek, tensi saya tinggi. Pas kebetulan memang lagi nyeri juga. Akhirnya berobat beneran,” ujarnya.

Sejak saat itu, Program JKN menjadi penyelamat bagi Ari dan keluarganya. Ia tidak mengeluarkan biaya apapun dari FKTP sampai ke FKRTL.

“Saya terdaftar sebagai peserta Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI-JK) pakai kelas 3 yang didaftar oleh pemerintah. Tidak pernah bayar sepeser pun. Alhamdulillah sangat membantu,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Apalagi, tidak hanya infeksi tuba falopi yang menjadi temuan dokter. Dari hasil tes lanjutan, Ari juga diketahui mengidap diabetes melitus.
“Saya sempat syok, karena tidak pernah merasa pusing atau gejala lain. Tapi dokter bilang ini karena pola makan saya yang tidak teratur dan stres juga,” ujar perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai penjahit di rumahnya.

Kini, Ari mulai mengubah pola makannya. Ia mengurangi nasi, tidak ngemil lagi, dan rutin disuntik insulin. Di meja kecil samping ranjangnya pun, tampak sepotong pisang rebus yang belum sempat tersentuh. Semua pengobatan dan kontrol lanjutan ia lakukan tanpa biaya berkat dijamin oleh BPJS Kesehatan.

Suaminya yang bekerja serabutan memperbaiki mobil, hanya bisa mendampingi Ari di waktu-waktu tertentu. Sementara anak semata wayangnya yang duduk di bangku SMP kelas 3, harus belajar mandiri saat ibunya dirawat.

“Kalau siang tidak perlu ditunggu. Biar suami ngurus anak dan kerja. Saya di sini ikuti perawatan dan hanya malam hari ditemani,” ucap Ari tersenyum meski tubuhnya belum sepenuhnya pulih.

Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.