Yogyakarta (ANTARA) - Pemerintah Kota Yogyakarta menggandeng dua perguruan tinggi dan satu rumah sakit dalam rangka implementasi kerja sama kampung tematik mewujudkan "One Village, One Sister University, One Sister Corporate".
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo di Yogyakarta, Jumat, mengatakan Kota Yogyakarta, hampir 95 persen sumber daya manusia (SDM), bukan sumber daya alam (SDA), sehingga Kota Yogyakarta harus berdaya manusianya karena tidak bisa mengandalkan pertanian, perkebunan, dan tambang.
"Kita hidup dan matinya hanya SDM. Kalau SDM tidak berkualitas, pasti tidak bisa bersaing," kata Hasto Wardoyo dalam sambutannya di Penandatangan Implementasi Kerja Sama Kampung Tematik FKKMK UGM, FBSB UNY dan RS Bethesda di Yogyakarta, Jumat.

Ia mengatakan Kota Yogyakarta yang mengutamakan SDM, banyak profesor, doktor dan orang hebat, serta rumah sakit yang bagus menjadi "Litle Singapura".
"Kalau kita mampu merawat SDM Kota Yogyakarta bersama perguruan tinggi dapat menjadi kota rujukan kota lain," katanya.
Hasto mengucapkan terima kasih kepada Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM yang menerjunkan 400 mahasiswa kedokteran yang turun langsung menangani kesehatan masyarakat. Mahasiswa langsung melakukan pemetaan dan database, nantinya dalam perkembangan waktu ada pendampingan, intervensi dari pemerintah, dan pembangunan dari pemkot.
"Kami yakin pemkot dengan fakultas kedokteran bisa mewujudkan satu kampung satu dokter," katanya.
Di bidang pendidikan, lanjut Hasto, dirinya mendapat keluhan dari masyarakat supaya wifi di bale kampung dimatikan. Hal ini dikarenakan setiap sore, anak-anak mengunduh aplikasi yang tidak jelas. Setiap jam belajar masyarakat, justru dimanfaatkan anak-anak memanfaatkan wifi untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.
Ia berharap kepada UNY menerjunkan mahasiswa untuk program "Pamsiswa" memberikan bimbingan belajar Bahasa Inggris, Bahasa Jawa, matematika atau kegiatan lain pada jam belajar masyarakat.
"Harapannya, masyarakat yang minta wifinya dimatikan tidak jadi. Pada sore hari, anak-anak dibimbing mahasiswa," katanya.
Ia juga berharap model belajar ini bisa melahirkan model sekolah rakyat di perkotaan yang tidak memiliki lahan tujuh hektare. Sejauh ini, konsep sekolah rakyat harus menyediakan lahan tujuh hektare, harus ada asrama, gedung bagus semua, sehingga biaya tinggi.
"Kota yang tidak memiliki lahan, dan anak-anak yang usianya masih kecil diasramakan, orang tua tidak mengizinkan," katanya.
Hasto berpendapat sekolah rakyat di kota versi Kota Yogyakarta bisa menjadi ide dan menjadi bahan masukan kepada pemerintah.
"Kami sangat berharap kepada Bappeda untuk mengalokasikan dana keistimewaan untuk mengembangkan sekolah rakyat model kota," katanya.
Ia juga berharap UNY bisa membantu Kota Yogyakarta mengembangkan dua kampung Inggris di pinggiran Kali Code.
"Nanti Kali Code kita bersihkan, kemudian menjadi destinasi. Sehingga kalau ada dua kampung Inggris, kami sangat bahagia sekali," katanya.
Asisten Ekonomi dan Pembangunan Kota Yogyakarta Kadri Renggono mengatakan pendekatan kampung tematik, yakni satu kampung, satu universitas. Hari ini, bersama-sama penandatangan kerja sama Pemkot Yogyakarta dengan UGM, UNY dan RS Bethesda.
"Kerja sama ini wujud kolaborasi lintas sektoral. Selain itu, kami menyusun program yang didukung perguruan tinggi," katanya.
Wakil Direktur Keuangan Bethesda Girindra Surya mengatakan pihaknya diminta dalam penanganan masalah ODGJ, stunting, dan TBC. Saat ini dilakukan percontohan di Klitren. Harapannya dapat dicontoh rumah sakit lain maupun di kampung lain.
"Kami berkomitmen mendukung program Wali Kota Yogyakarta melawan stunting, TBC dan masalah kesehatan lainnya," katanya.
