Petani harus diberi pemahaman yang menyeluruh tentang kelebihan dan kelemahan padi hibrida agar bisa mengambil keputusan yang rasional. Dalam hal ini, penyuluh perlu memiliki karakter “motekar” (cekatan, kreatif, dan proaktif) bukan sekadar pelaksana birokratis.
Mereka harus menjadi pendamping sejati bagi petani untuk memastikan bahwa inovasi berjalan efektif di lapangan.
Food estate
Di tengah semangat pengembangan food estate, ide membangun kawasan food estate khusus padi hibrida menjadi relevan. Food estate ini bisa menjadi laboratorium besar untuk mengintegrasikan riset, produksi, dan pemasaran padi hibrida secara terpadu.
Model semacam ini juga memungkinkan kemitraan yang sehat antara pemerintah, swasta, dan petani.
Pemerintah dapat menyediakan lahan dan kebijakan pendukung, sektor swasta berperan dalam pembiayaan dan teknologi, sementara petani menjadi pelaksana dan penerima manfaat langsung.
Kolaborasi semacam ini akan mempercepat adopsi teknologi, sekaligus memperkuat daya saing beras nasional.
Baca juga: Padi Reborn jadi pembuka hari terakhir Synchronize 2025 lewat era lagu 90-an
Meskipun demikian, keberhasilan jangka panjang tetap bergantung pada perubahan paradigma pembangunan pertanian.
Swasembada tidak akan bertahan jika sistem pangan hanya berorientasi pada kuantitas, tanpa memerhatikan kesejahteraan petani dan keberlanjutan lingkungan.
Pemerintah perlu memastikan bahwa kebijakan pangan tidak hanya menambah produksi, tetapi juga menjamin harga yang adil bagi petani, distribusi yang efisien, serta dukungan akses permodalan dan asuransi pertanian.
Peningkatan produktivitas melalui padi hibrida harus diiringi dengan kebijakan sosial ekonomi yang memperkuat posisi petani di rantai nilai pangan.
Di masa depan, menjaga swasembada beras berarti menjaga martabat bangsa. Setiap butir beras yang tumbuh di sawah petani Indonesia adalah simbol kemandirian, kerja keras, dan inovasi.
Baca juga: Bantul memproduksi padi 116 ribu ton pada semester I-2025
Pengembangan padi hibrida bukan semata proyek teknologi, tetapi juga strategi kebangsaan yang menegaskan bahwa Indonesia mampu berdiri di atas tanahnya sendiri, memberi makan rakyatnya tanpa bergantung pada impor.
Untuk itu, Indonesia perlu menjadikan riset, penyuluhan, dan pemberdayaan petani sebagai pilar utama.
Swasembada beras berkelanjutan bukan mimpi jika seluruh pihak bersatu dalam kerja nyata, dari laboratorium hingga petak sawah, dari kebijakan hingga tindakan.
Hal yang bangsa ini butuhkan, kini bukan sekadar benih unggul, tetapi juga semangat unggul untuk menjaga masa depan pangan negeri.
*) Entang Sastraatmadja adalah Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Saatnya padi hibrida menjadi pilar ketahanan pangan Nasional
