Salah satu hal mendasar dalam peningkatan produktivitas adalah sinergi antara peneliti, penyuluh, dan petani. Ketiganya membentuk rantai inovasi pertanian yang tak terpisahkan.
Para peneliti dan pemulia tanaman bertanggung jawab melahirkan varietas unggul baru, sementara penyuluh pertanian berperan sebagai jembatan pengetahuan yang mentransfer hasil riset ke lapangan.
Petani menjadi ujung tombak penerapan teknologi tersebut. Sinergi ini terbukti ampuh membawa Indonesia pada swasembada beras tahun 1984 dan kembali pada periode 2019–2021.
Pola kerja sama ini, kini perlu diperkuat kembali karena tantangan yang dihadapi semakin kompleks.
Padi hibrida
Pengembangan padi hibrida menawarkan peluang besar untuk meningkatkan hasil panen secara signifikan.
Varietas hibrida, hasil persilangan dua tetua yang berbeda secara genetik, memiliki keunggulan berupa vigor dan daya hasil lebih tinggi daripada varietas inbrida.
Produktivitasnya bisa mencapai satu setengah, hingga dua kali lipat dari padi lokal, bahkan dalam beberapa uji coba bisa menghasilkan hingga sembilan ton per hektare.
Kualitas berasnya pun lebih baik, dengan tekstur pulen dan aroma yang lebih wangi. Inilah peluang yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat ketahanan beras nasional.
Namun, pengembangan padi hibrida juga memiliki tantangan yang tidak kecil, seperti harga benih yang lebih mahal dan keharusan membeli benih baru setiap musim tanam karena hasil panen tidak dapat dijadikan benih ulang.
Baca juga: Pemerintah menganggarkan Rp10 triliun dorong pertanian modern berbasis AI
Di sinilah pentingnya intervensi kebijakan publik yang tepat. Pemerintah harus menunjukkan kemauan politik yang kuat untuk mendorong riset dan produksi benih hibrida di dalam negeri agar harga lebih terjangkau.
Dukungan ini tidak hanya berupa subsidi, tetapi juga pembentukan ekosistem riset dan industri benih nasional yang mandiri.
Perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan dunia usaha perlu digandeng dalam kemitraan strategis, baik dalam pengembangan varietas baru maupun dalam distribusi benih ke petani.
Pemerintah daerah pun dapat berperan penting dengan menjadikan padi hibrida sebagai bagian dari program prioritas ketahanan pangan daerah.
Selain itu, peran penyuluh pertanian menjadi sangat vital. Mereka tidak sekadar menyampaikan teknologi baru, tetapi harus mampu mengubah cara pandang petani terhadap inovasi.
