Pelatihan grafir kayu tahap kedua menjadi simbol kemandirian UMKM disabilitas

id Pelatihan grafir kayu ,Simbol kemandirian ,UMKM disabilitas

Pelatihan grafir kayu tahap kedua menjadi simbol kemandirian UMKM disabilitas

Pelatihan grafir kayu tahap dua oleh tim pengabdian ISI Yogyakarta kepada Avta Mandiri, UMKM disabilitas yang fokus pada desain dan kerajinan kayu. ANTARA/HO-ISI Yogyakarta

Yogyakarta (ANTARA) - Pelatihan grafir kayu tahap dua oleh tim pengabdian Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta bagi Avta Mandiri menjadi simbol menuju kemandirian usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) disabilitas yang fokus desain serta kerajinan kayu tersebut.

"Pelatihan tahap kedua itu menjadi simbol keberanian baru bagi Avta Mandiri, bahwa teknologi bukan penghalang, melainkan jembatan menuju kemandirian," kata Ketua Tim Pengabdian yang juga Dosen ISI Yogyakarta Nandang Septian di Yogyakarta, Minggu.

Dia menjelaskan hal tersebut karena di balik setiap goresan mesin grafir, tersimpan kisah perjuangan yang kelak akan menjadi inspirasi bagi banyak orang.

"Ini bukan hanya tentang hasil grafir, tetapi tentang keberanian untuk terus belajar, bekerja, dan berkarya bersama," katanya.

Dalam pelatihan grafir kayu beberapa hari lalu itu, di meja kerja mereka terdapat papan kayu berukir hasil latihan minggu sebelumnya.

Sebagian masih kasar, sebagian mulai menunjukkan detail halus, sehingga pelatihan itu merupakan proses penyempurnaan pelatihan sebelumnya.

Dengan demikian, kata dia, bagi mereka, mesin grafir bukan lagi alat asing, dan tombol-tombol di layar monitor yang dahulu mereka kurang familier kini terasa akrab.

"Proses ini tidak hanya melatih teknis, tapi juga kesabaran dan kerja sama," kata Amanda Amalia yang hari itu mendampingi peserta mengatur kecepatan mesin.

Ayunda Regina, mahasiswa Desain Komunikasi Visual ISI Yogyakarta selama pelatihan mencatat hasil percobaan setiap peserta.

"Kami membuat catatan kecil dari setiap sesi. Misalnya, kecepatan 80 persen lebih baik untuk kayu mahoni. Dari sini, peserta belajar membaca data sendiri," katanya.

Ketua Avta Mandiri Sukamto selama pelatihan sesekali berkeliling membantu rekan-rekannya yang baru belajar teknik grafir kayu digital tahap dua itu.

"Setiap minggu kemampuan mereka meningkat. Sekarang, saya lebih sering mengamati saja karena mereka sudah bisa bekerja mandiri," katanya.

Salah seorang anggota penyandang disabilitas daksa, Hari, mengatakan kegiatan ini lebih dari sekadar pelatihan.

"Saya jadi merasa berguna. Setiap hasil grafir yang keluar dari mesin ini seperti membuktikan bahwa kami juga bisa menghasilkan karya profesional," katanya.

Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.