Yogyakarta (ANTARA) - Ernawati Setyaningsih (38) tampak sigap begitu anaknya Hanenda Jafi Ferdiyanto (2) merengek meminta roti yang ada di tumpukan meja di samping tempat tidur di sebuah ruang perawatan Rumah Sakit Hermina pagi itu.
Begitu mendapatkan roti cokelat yang diinginkan, Hanendra yang merupakan akan kedua Erna ini pun langsung melahapnya dan berulang kali menyerahkan sisa pinggiran roti ke arah mulut ibunya.
Erna mengaku senang dengan perkembangan kesehatan anaknya yang jauh lebih baik dari hari-hari sebelumnya akibat peunomia yang kambuh.
“Alhamdulillah ini sudah membaik, karena kemarin sampai demam menggigil, batuk, pilek, lemes, dan saturasi oksigen menurun, sehingga langsung kami bawa ke Instalasi Gawat darurat (IGD),” kata Erna.
Ia menceritakan anaknya divonis pneumonia sejak usia 1,5 tahun dan sejak saat itu, sudah enam kali anaknya keluar masuk rumah sakit untuk pengobatan.
“Dugaan saya karena asap rokok penyebabnya,” kata Erna yang kemudian menceritakan sebelum kejadian, di rumah orang tuanya ada acara mengenang meninggalnya orang tua dan saat itu banyak yang merokok.
Kehadiran Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) bagi Erna bukan sekadar kartu kesehatan biasa, melainkan sandaran utama yang telah menemani perjalanan panjang pengobatan anggota keluarganya.
Tidak hanya untuk anak keduanya, lanjut Erna, Program JKN juga bermanfaat untuk dirinya yang sering ke rumah sakit karena berulang sakit gigi, tetapi juga untuk pengobatan putra pertamanya yang sering bermasalah dengan pita suara akibat alergi debu.
Erna pun mengenang kedua orang tuanya yang sebelumnya juga memanfaatkan Program JKN dalam kurun waktu lama sampai keduanya meninggal dunia.
Air muka Erna sedikit berubah haru saat menceritakan perjuangan ibunya yang mengidap komplikasi diabetes dan jantung, di mana operasi penggantian katup jantung yang menelan biaya hingga ratusan juta rupiah serta perawatan ICU selama berminggu-minggu di RSUP Dr. Sardjito sepenuhnya ditanggung oleh BPJS Kesehatan tanpa harus mengeluarkan biaya sepeser pun.
“Saat itu ibu di ICU tiga minggu, karena tidak ada perkembangan dipindah kamar perawatan agar lebih dekat dengan keluarga selama seminggu. Operasi jantung ibu dinyatakan berhasil, tapi ada masalah kelistrikan jantung, sehingga organ lainnya tidak merespon, beberapa kali henti jantung, dan akhirnya kelumpuhan otak. Semua pengobatan ditanggung BPJS Kesehatan,” kata Erna berkaca-kaca.
Setiap tiga bulan sekali, lanjut Ema, dirinya harusnya menemani ibunya ke rumah sakit untuk seluruh pengobatan tersebut dan seluruhnya dijamin oleh Program JKN, tanpa sepeser rupiah yang ia keluarkan.
“Setelah ibu meninggal, bapak juga di ICU rumah sakit ini sebelum meninggal. Seluruhnya ditanggung BPJS Kesehatan. Kami sangat terbantu, karena gratis dan tidak pernah ada biaya sama sekali.
Kalau tidak pakai JKN, tidak tahu biayanya dari mana. Kalau dikalkulasi tidak bisa. Terima kasih BPJS Kesehatan,” kata Erna penuh syukur.
Erna merasakan iuran bulanan yang ia sisihkan, tidak sebanding dengan ratusan juta rupiah manfaat medis yang telah diperoleh kedua orang tuanya serta keluarganya, yang telah menyelamatkan ekonomi keluarganya.
