Sleman (Antara Jogja) - Pemerintah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta mulai mengembangkan potensi ekonomis tanaman bambu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Masyarakat Sleman tidak asing dengan tanaman bambu. Bahkan keberadaan bambu yang dahulu banyak dijumpai di lereng Gunung Merapi memiliki makna yang khusus, yakni penanda akan terjadinya bahaya erupsi," kata Bupati Sleman Sri Purnomo saat menanam bambu di lereng Merapi Dusun Kopeng, Kepuharjo, Cangkringan, Senin.

Menurut dia, bambu merupakan salah satu potensi industri kecil yang dikembangkan masyarakat. Bahkan industri kerajinan bambu di Kabupaten Sleman memiliki prospek yang cukup bagus.

"Populasi tanaman bambu di Sleman cukup banyak. Pada tahun ini jumlahnya mencapai 733.545 batang, yang sebagian besar berada di Pakem, Cangkringan dan Turi. Sedangkan kebutuhan bambu pada 2011 mencapai 817.860 batang per tahun," katanya.

Ia mengatakan, tanaman bambu jika dikelola secara benar memiliki nilai ekonomis tinggi serta banyak diminati masyarakat. Karena itu bambu sangat strategis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat jangka panjang.

"Tanaman bambu yang mudah dibudidayakan ini membutuhkan masa tanam yang cukup lama antara tiga hingga lima tahun. Jika Sleman berkomitmen sebagai sentra bambu maka perlu langkah strategis bagi pembudidaya agar memperoleh pendapatan sebelum masa panen," katanya.

Sri Purnomo mengatakan, realisasi di lapangan menunjukkan bahwa tanaman bambu belum dioptimalkan dan hanya difungsikan sebagai batas wilayah.

"Padahal apabila dilakukan intensifikasi penanaman bambu yang berkualitas maka komoditas ini akan menjadi investasi jangka panjang," katanya.

Ia mengatakan, upaya pengembangan potensi bambu di Kabupaten Sleman merupakan agenda besar bagi seluruh instansi di Kabupaten Sleman.

"Diperlukan komitmen bersama dari swasta dan masyarakat agar pengembangan tanaman bambu dari hulu hingga ke hilir dapat terealisasi, terkoordinasi dan terintegrasi," katanya.

Di Kabupaten Sleman. terdapat dua sentra industri bambu yang memiliki perbedaan produk.

"Sentara bambu Sendari Kecamatan Mlati merupakan salah satu sentra kerajinan bambu yang memfokuskan pada produk furniture, sedangkan Dusun Brajan, Sendangagung Kecamatan Minggir merupakan sentra produk anyam-anyaman bambu," katanya.

Ia mengatakan, di luar kedua wilayah tersebut cukup banyak masyarakat Sleman yang memiliki mata pencaharian di bidang kerajinan bambu

"Sebagai gambaran pada akhir 2012 di Sleman terdapat 1.759 unit usaha yang mengelola kerajinan bambu, yang terkonsentrasi di Mlati, Moyudan, Minggir dan Godean. Jumlah tersebut menyerap tenaga kerja sebesar 3.497 tenaga kerja dengan nilai investasi sebesar Rp10 miliar lebih dan nilai produksi sebesar Rp13 miliar lebih," katanya.

Hasil dari industri kerajinan bambu tersebut juga telah menembus pangsa pasar dunia.

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupataen Sleman Widi Sutikno mengatakan kebutuhan bambu untuk pemenuhaan bahan baku kerajinan sekitar 850.000 batang per tahun, sedangkan kemampuan produksi hanya sekitar 700.000 batang per tahun.

"Kawasan yaang potensial untuk pengembangan budidaya bambu adalah tanaah milik masyarakat dan tanah negara. Pada tanah milik masyarakat bambu akan dibudidayakaan pada tanah tandus, tegal, pekarangan, semak belukar dan bantaran sungai. Sedangkan padaa tanah negara bambu akan dibudidayakan pada tanah kas desa dan `Sultan Ground`," katanya.

(V001)