Bantul (Antara Jogja) - Pemerintah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada tahun anggaran 2014 menganggarkan sebesar Rp19 miliar untuk melakukan renovasi pasar tradisional Bantul tahap dua.

"Renovasi pasar Bantul tahap dua sudah memasuki tahap lelang, kami harapkan pembangunan akan mulai dilaksanakan pada Juli nanti," kata Kepala Kantor Pengelolaan Pasar Bantul, Hermawan Setiadji di Bantul, Senin.

Menurut dia, anggaran yang bersumber dari APBD Bantul itu nanti akan digunakan membangun kios dua lantai termasuk perubahan desain bangunan di pasar tradisional terbesar Bantul yang menampung pedagang sekitar 1.200 orang tersebut.

Ia mengatakan, meski begitu hingga saat ini, pihaknya belum mengetahui secara pasti siapakah pihak ketiga yang akan menggarap renovasi tersebut, namun upaya pembongkaran menggunakan alat berat sudah mulai dilaksanakan beberapa hari ini.

"Mudah-mudahan tidak ada kendala, sehingga upaya renovasi ditargetkan bisa selesai akhir tahun ini, nanti akan ditambah sebanyak 200 los di lantai dua," katanya.

Sementara itu, kata dia renovasi tahap pertama dengan pembangunan sebanyak sekitar 500 los pedagang di lantai dasar sudah selesai pada akhir 2013.

Menurut dia, renovasi pasar tradisional Bantul ini diupayakan untuk meningkatkan kenyamanan kepada pedagang pasar serta konsumen (masyarakat) mengingat sektor perdagangan merupakan mata pencaharian dari sebagian penduduk Bantul.

Sementara itu, salah seorang pedagang sejumlah kebutuhan pokok di Pasar Bantul, Pujiyati mengatakan, berharap renovasi pasar tradisional ini segera dirampungkan agar aktivitas jual beli di pasar kembali normal dan tidak terganggu akibat semrawutnya situasi pasar.

"Sejak saya pindah ke los sementara ini, kebanyakan pembeli yang datang hanya ngecer, padahal sebelumnya sering sekali yang datang orang mau mantu beli puluhan kilogram, makanya saya ingin cepat rampung," katanya.

Dirinya mengakui tingkat penjualan di Pasar Bantul juga menurun sejak pindah di los sementara yang disiapkan di sebelah selatan pasar, misalnya sebelumnya bisa menjual lima hingga tujuh kilogram telur, saat ini hanya dapat menjual dua kilogram telur sehari.

"Tidak tahu kenapa kok malah jadi sepi, entah karena malas berbelanja atau bagaimana, tapi penurunannya sekitar 25 persen. Saya harap bisa ramai lagi," katanya.

(KR-HRI)