Jogja (ANTARA) - Produk kerajinan yang dibuat dari batok kelapa di Desa Guwosari, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagian dijual ke berbagai daerah di luar Pulau Jawa.
"Konsumennya ada yang dari Yogyakarta, Klaten, dan Semarang. Namun, ada juga yang dari luar Jawa seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan, dan Riau," kata perajin dan pemilik sanggar kerajinan batok `The Bathok` Ikhwanudin, di Bantul, Jumat.
Menurut dia, berbagai macam barang kerajinan batok yang dihasilkannya antara lain mangkok, cangkir, kap lampu, sendok dan garpu, tempat lilin, toples serta celengan.
Barang-barang kerajinan tersebut dijual dengan harga mulai dari Rp1.000 sampai Rp35.000 per buah.
Ia mengatakan dalam sebulan setidaknya mendapat pesanan dari konsumen untuk dikirim ke berbagai daerah, yang jumlahnya antara 500 hingga 1.000 buah yang terdiri atas berbagai jenis barang kerajinan.
"Kalau setiap hari pesanan belum tentu ada, namun kalau seminggu sekali pasti ada yang datang. Jika dirata-rata setiap bulan bisa mencapai 500 barang kerajinan, dan kalau pas ramai bisa sebanyak 1.000 barang kerajinan, jadi tergantung pesanan," katanya.
Menurut dia, sejumlah pembeli yang rata-rata dari kalangan pedagang itu, mengetahui adanya produk kerajinan batok melalui internet. Sebab, dirinya mempromosikan barang produksinya melalui internet.
Promosi melalui internet, kata dia sudah dilakukan sejak berdirinya usaha ini pada 2010, bersamaan dengan mulai berkembangnya Dusun Santan di Desa Guwosari sebagai sentra kerajinan batok.
"Sebelum membuka usaha ini, saya sebelumnya ikut orang di bidang usaha kerajinan," katanya.
Ia mengatakan saat ini setidaknya di kawasan sentra setempat telah ada empat industri rumahan yang memproduksi kerajinan batok, yang rata-rata mulai berkembang pada 2010.
"Rata-rata masih skala rumahan yang mempekerjakan tiga sampai lima perajin, jadi produksinya masih terbatas," kata dia, yang mempekerjakan tiga perajin dengan kemampuan produksi rata-rata 100 barang kerajinan per minggu.
(KR-HRI)
