Perajin batok Bantul terkendala bahan baku

id perajin batok

Perajin batok Bantul terkendala bahan baku

Kerajinan batok kelapa produksi perajin Desa Guwosari, Pajangan, Bantul, DIY di jual ke luar jawa (Foto ANTARA/Sidik)

Jogja (ANTARA Jogja) - Perajin batok di sentra kerajinan batok Desa Guwosari, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, terkendala ketersediaan bahan baku sehingga tidak bisa menjaga kontinuitas produksi kerajinan.

"Bahan baku batok terkadang susah didapat, terutama untuk batok utuh, yang seperti itu tidak mesti ada," kata perajin dan pemilik sanggar kerajinan batok "The Bhatok" Desa Guwosari, Bantul, Ikhwanuddin, Sabtu.

Menurut dia, selain itu, bahan baku batok yang dipasok dari salah satu perusahaan minyak kelapa di kawasan Srandakan, Bantul juga tidak sepanjang tahun ada, karena menyesuaikan dengan musim panen kelapa.

"Jadi produksi kerajinan hanya sesuai bahan baku, tidak bisa stabil, terutama untuk barang kerajinan cangkir dan kap lampu itu kan bahan baku batok harus utuh, tidak bisa separuh," katanya.

Ia mengatakan, padahal disaat libur sekolah pesanan barang kerajinan banyak, dan bisa meningkat hingga 50 persen dibanding sebelumnya, sehingga produksi kerajinan terkadang tidak bisa memenuhi semua pesanan.

"Kalau selama liburan katakanlah seminggu penuh pesanan bisa sampai 500 aneka kerajinan, namun saya kewalahan penuhi pesanan," katanya yang telah mempekerjakan tiga perajin warga setempat.

Menurut dia, berbagai macam barang kerajinan batok yang dihasilkannya antara lain mangkok, cangkir, kap lampu, sendok dan garpu, tempat lilin, toples serta celengan.

Barang-barang kerajinan tersebut dijual dengan harga mulai dari Rp1.000 sampai Rp35.000 per buah.

Ia mengatakan dalam sebulan setidaknya dirinya mendapat pesanan dari konsumen untuk dikirim ke berbagai daerah, yang jumlahnya antara 500 hingga 1.000 buah yang terdiri atas berbagai jenis barang kerajinan.

"Konsumennya ada yang dari Yogyakarta, Klaten, dan Semarang. Namun, ada juga yang dari luar Jawa seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan, dan Riau," kata dia.

(KR-HRI)


Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.