Bantul, 26/9 (ANTARA) - Pendapatan perajin batok atau tempurung kelapa di sentra kerajinan batok Santan, Desa Guwosari, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, diperkirakan minimal Rp30 juta per bulan.
Menurut perajin dan pemilik sanggar kerajinan batok "Cumplung Adji" Bantul, Nur Taufiq, Rabu, pendapatan itu dihitung dari hasil penjualan tiap bulan sebanyak 5.000 sampai 10.000 buah, dikalikan dengan harga jual mulai dari Rp6.000 sampai Rp125.000 per buah.
"Omzetnya tergantung permintaan pasar, tetapi dalam sebulan minimal bisa menjual sebanyak 5.000 buah, dan kalau pas ramai bisa sampai 10.000 buah aneka produk kerajinan, jadi memang tidak bisa stabil," katanya.
Menurut dia, produk kerajinan batok yang dihasilkan di antaranya souvenir, gantungan kunci, dan berbagai peralatan makan seperti cangkir, mangkok, sendok, celengan, kap lampu, dan berbagai produk yang bersifat fungsional lainnya.
Ia mengatakan berbagai produk kerajinan tersebut sebagian besar diekspor melalui eksportir ke sejumlah negara di Eropa seperti Hawai, Kanada, Spanyol, Australia, Malaysia serta ke beberapa negara di Timur Tengah.
"Sejak 1995 kami sudah ekspor, dan akhir-akhir ini juga ke Eropa. Dari awal merintis usaha memang lebih ditekankan pada barang fungsional, karena kalau sebatas hiasan perputaran produknya kurang cepat, karena permintaan besar justru barang fungsional," kata dia.
Bahkan, kata dia, dirinya pernah mendapat kontrak dari salah satu pembeli di Australia untuk memproduksi peralatan catering seperti sendok, piring, tempat minum dari batok dalam jangka waktu selama tiga bulan berturut-turut.
"Sasaran konsumen memang untuk menengah ke atas, kalau saya persentasekan, sekitar 75 persen dari semua penjualan diekspor dan sisanya yang 25 persen pesanan pengepul kerajinan di berbagai daerah seperti Jakarta, Medan, Bandung dan Surabaya," kata dia.
Ia mengatakan usaha yang dirintis sejak sekitar 20 tahun lalu ini bisa memberdayakan warga setempat, karena sedikitnya ada 12 orang yang menjadi tenaga kerja baik yang mengerjakan dengan dibawa pulang, maupun yang bekerja di sanggar kerajinan.
(KR-HRI)
