Jogja (ANTARA Jogja) - Peran teknik sipil perlu ditingkatkan dalam pembangunan berkelanjutan yang ramah lingkungan, kata pakar dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Bambang Suhendro.
"Konsep pembangunan berkelanjutan secara bertahap telah diterapkan dalam berbagai aspek struktur teknik sipil tetapi masih dalam jumlah yang kecil," katanya di Yogyakarta, Selasa.
Menurut dia pada konferensi "1st International Sustainable Civil Engineering Structures and Construction Materials", Indonesia memiliki sumber daya manusia dan material yang cukup.
"Namun, pembangunan kurang memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan seperti terlihat dalam pembuatan desain, konstruksi dan pemeliharaan dari setiap struktur teknik sipil," kata Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.
Oleh karena itu, kata dia, konferensi tersebut diharapkan dapat memberikan solusi dan rekomendasi kebijakan terkait dengan berbagai isu rekayasa struktur sipil dan bahan konstruksi berkelanjutan.
"Selain itu juga diharapkan bisa menjadi ajang membangun jaringan serta berbagi ilmu dan pengalaman terkait hasil penelitian terbaru dunia teknik sipil yang terus mengalami perkembangan," katanya.
Anggota Komite Organisasi Konferensi "1st International Sustainable Civil Engineering Structures and Construction Materials", Ali Awaludin mengatakan teknik sipil terus berkembang pesat baik dalam hal teknologi maupun material.
"Kemajuan teknik sipil di dunia berkembang cukup pesat dan saat ini sedang fokus pada pembangunan berkelanjutan yang ramah lingkungan," katanya.
Untuk itu, menurut dia, konferensi tersebut membahas konsep teknik sipil yang konstruksinya ramah lingkungan, pemanfaatan bahan yang terbarukan, dan bahan yang sudah ada tetapi masih bisa dimanfaatkan kembali.
"Konferensi itu bertujuan untuk menyebarluaskan dan menyinergikan berbagai informasi hasil riset ilmiah terbaru dan pencapaian di kalangan teknik sipil di seluruh dunia," katanya.
Ia mengatakan konferensi bertema "Enhancing the Role of Civil Engineering in Sustainable Environment" itu melibatkan pakar dan peneliti dari Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Jerman, Taiwan, Thailand, dan Singapura.
"Peserta konferensi juga akan mengikuti `technical tour` ke Balai Konservasi Candi Borobudur dan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat," katanya.
(L.B015)
