Perajin gula merah keluhkan harga rendah

id gula

Perajin gula merah keluhkan harga rendah

ilustrasi (Foto ANTARA/Mamiek)

Kulon Progo (Antara Jogja) - Perajin gula kelapa di Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengeluhkan harga gula merah di pasaran rendah sehingga keuntungan yang diperoleh tidak signifikan.

Perajin gula asal Pedukuhan Teganing I, Desa Hargotirto, Kokap, Parjan di Kulon Progo, Kamis, mengatakan pascakenaikan bahan bakar minyak menyebabkan ongkos produksi naik cukup tinggi sehingga keuntungan yang diperoleh sedikit.

"Biaya produksi sangat besar, tetapi harga jual rendah sehingga keuntungan yang diperoleh sedikit," kata Parjan.

Ia mengatakan ongkos produksi yang mengalami kenaikan cukup signifikan pascakenaikan harga BBM adalah kayu bakar.

Biaya produksi gula merah sebagian besar berupa kayu bakar. Setiap satu truk, kata dia, habis digunakan dalam waktu kurang dari satu bulan.

Sebelum kenaikan harga BBM satu truk kayu bakar seharga Rp200 ribu, sekarang mencapai Rp300 ribu. Itu masih ditambah biaya membelah dan mengeringkan.

"Dengan adanya kenaikan harga tersebut, keuntungan kami sangat mepet. Kalau ditambah kenaikan harga pokok keuntungan yang kami peroleh tidak bisa untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari," keluhnya.

Ia berharap pengepul dan kelompok usaha bersama (KUBE) tempat menyetorkan gula merah segera menaikkan harga agar keuntungan yang diperoleh lebih tinggi dan bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti sebelum adanya kenaikan harga BBM.

Anggota Komisi IV DPRD Kulon Progo Risman Susandi prihatin dengan kondisi perajin gula merah di Kokap.

Menurut dia, hampir semua perajin gula merah di Kokap merupakan anggota koperasi dan KUBE. Mereka menyetor hasil produksinya ke koperasi atau KUBE dengan harga yang sudah ditentukan. Gula merah dan gula semut itu kemudian dipasarkan keluar negeri dengan sistem kontrak.

Saat ini untuk koperasi dan KUBE membeli gula merah dari petani dengan harga Rp10.500 hingga Rp11.500 per kilogram. Sedangkan untuk gula semut seharga Rp15.000 hingga Rp16.000 per kg.

"Harga itu berlaku sejak sebelum ada kenaikan BMM, setelah BBM naik, harga gula juga masih sebesar itu. Untuk menolong nasib perajin seharusnya koperasi dan KUBE segera menaikkan harga. Idealnya untuk gula merah sekitar Rp15.000 per kg dan gula semut Rp20.000 per kg," kata Risman.

Selain itu, Risman juga berharap Pemkab Kulon Progo melalui SKPD terkait membuat kebijakan terobosan untuk meningkatkan harga gula merah dan gula semut. Posisi tawar para perajin dalam penentuan harga relatif lemah.

"Kalau tidak ada dukungan dari KUBE, koperasi atau pemkab upaya peningkatan perajin gula Kokap akan sulit terlaksana," kata dia.

KR-STR

Pewarta :
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.