
KLH bantu kelompok peternak sapi sembilan biodigester

Kulon Progo (Antara Jogja) - Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, akan memberikan bantuan sembilan biodigester kepada kelompok peternak sapi untuk mengolah limbah kotoran ternak.
Kasi Pengawasan dan Pengendalian Kantor Lingkungan Hidup Kulon Progo Rienduari Widiastuti di Kulon Progo, Minggu, mengatakan bantuan biodigester memang sedikit karena proposal yang masuk juga berkurang.
"Bantuan biodigester setiap tahun mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan proposal bantuan biodigester dari masyarakat juga sangat sedikit. Tahun ini, KLH hanya memberikan bantuan sembilan unit biodigester," kata Rienduari.
Menurut dia, pemanfaatan kotoran ternak dan limbah industri kecil tahu untuk biogas atau biodigester sebagai energi alternatif sangat diminati masyarakat. Namun, seiring banyaknya bantuan yang diberikan pemerintah, semakin sedikit masyarakat yang mengajukan bantuan.
Bantuan biodigester setiap tahunnya mulai 2007 sejumlah 12 unit, 2008 sejumlah 28 unit, 2009 sejumlah 35 unit, 2010 sejumlah 44 unit, 2011 sejumlah 21 unit, 2012 sejumlah 26 unit, 2013 sejumlah 30 unit, dan 2014 sebanyak 11 unit.
"Bantuan biodigester sediri tidak hanya dilakukan KLH, tapi juga Dinas Perindustrian, Perdagangan, Energi, dan Sumber Daya Mineral (DisperindahESDM) Kulon Progo. Kami mendorong masyarakat secara mandiri mampu menanfaatkan limbah ternak dan limbah industri tahu sebagai biogas. Hal ini bermanfaat secara ekonomi dan tidak terjadi pencemaran udara," katanya.
Perajin tahu di Desa Tuksono Priyo Utomo mengatakan pihaknya pernah mendapat bantuan satu unit biodigester instalasi pengolahan air limbah (IPAL) tahu dari KLH Kulon Progo. Bantuan ini bertujuan supaya tidak ada pencemaran limbah tahu yang dimilikinya.
Ia mengatakan satu unit IPAL dapat menampung sekitar 3.500 liter air limbah tahu setiap harinya. Limbah tersebut berasal dari sisa penggilingan kedelai sebanyak lima hingga tujuh kuintal per hari.
"IPAL ini berfungsi mengolah limbah tahu menjadi gas. Kemudian, gas dialirkan ke rumah-rumah warga yang membutuhkan," kata dia.
Dengan adanya biodigester IPAL tahu, kata Priyo, masyarakat di sekitar rumahnya tidak lagi mengeluarkan biaya untuk membeli elpiji. Warga dapat memanfaatkan, biogas untuk memasak dari 06.00 WIB sampai 20.00 WIB.
"Sebelum dibantu biodigester IPAL, limbah tahu dibuang begitu saja, sehingga menyebabkan pencemaran lingkungan. Tetapi dengan adanya biogas IPAL tahu, kondisi lingkungan terjaga. Bahkan, kebutuhan gas 20 kepala keluarga (KK) dapat terpenuhi," katanya.
(KR-STR)
Pewarta : Oleh Sutarmi
Editor:
Mamiek
COPYRIGHT © ANTARA 2026
