Bantul akan rekayasa komoditas pertanian pesisir Baros

id Pertanian

Petani menabur pupuk di area pertanian bawang merah di Kretek, Bantul. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/18.

 Bantul (Antaranews Jogja) - Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta akan melakukan rekayasa komoditas pertanian yang ramah terhadap air laut untuk diterapkan di lahan pertanian kawasan pesisir Baros, Desa Tirtohargo. 
     
"Kami sudah diskusi teman-teman petani di wilayah Baros, harus ada rekayasa komoditas pertanian, menurut kami kuncinya itu, rekayasa komoditas," kata Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Bantul Pulung Haryadi di Bantul, Rabu. 
     
Menurut dia, rekayasa komoditas pertanian yang tahan air laut itu menyikapi terkait seringnya puluhan hektare lahan pertanian di wilayah pesisir Baros terkena dampak luapan air muara sungai wilayah Pantai Samas karena dampak gelombang pasang pantai selatan.
     
Ia mengatakan, berdasarkan pengamatan, terendamnya lahan pertanian di pesisir Bantul akibat luapan air pasang pantai selatan merupakan fenomena alam tahun. Oleh sebab itu, salah satu kunci penanggulangan dengan cara menerapkan rekayasa komoditas.
   
 Pulung menjelaskan, rekayasa komoditas itu dengan cara sebelum memasuki Agustus, para petani diharapakan menanam varietas padi yang toleran terhadap air asin, dan sebagai percontohan, pihaknya akan menggandeng Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta. 
   
 "Kami akan buat pilot projek bersama Balai Pengkajian Teknologi Pertanian 
(BPTP). Kita kenalkan (kepada petani) varietas tanaman terutama padi yang toleran air asin," kata mantan Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Bantul ini. 
       
Meski demikian, kata dia, pihaknya tidak membantah, program rekayasa komoditas ini masih bisa menemui kelemahan, karena para petani lebih suka menanam tanaman yang dianggap memiliki nilai ekonomis tinggi, terlebih petani di wilayah pesisir. 
     
Menurut dia, tanaman padi memiliki nilai ekonomi rendah, karena keuntungan yang didapatkan petani dalam budidaya padi sedikit, berbeda dengan bawang merah yang memiliki nilai keuntungan lebih banyak, meski resiko yang dihadapi juga besar. 
     
"Tanaman padi ini kurang diminati petani, karena untungnya sedikit. Kalau bawang merah untungnya banyak, tapi kalau rugi ya banyak. Ini yang jadi kendala, namun setidaknya bisa dicoba secara bertahap," katanya. 
       
Sementara itu, berdasarkan laporan yang dia terima, lahan pertanian di Bantul yang terdampak luapan air pasang laut pantai selatan beberapa waktu lalu mencapai seluas 25 hektare, 15 hektare diantaranya merupakan tanaman bawang merah, yang semua mengalami gagal panen.
     
"Rata-rata kerugian untuk lahan bawang merah sekitar Rp40 juta per hektare, namun ada tanaman padi dan ada kacang juga, tapi belum kami hitung. Nilai kerugian kalau digital bisa ratusan juta," katanya.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar