Sukses hotel kapsul "Bobobox"

id Bobobox,Indra Gunawan,Kisah Sukses,Hotel kapsul

Sukses hotel kapsul "Bobobox"

CEO dan Co-Founder Bobobox Indra Gunawan di kantor pusatnya kawasan Bandung, Jawa Barat, Kamis (10/6/2021). (Antara/Ricky Prayoga)

Jakarta (ANTARA) - Saat ini masyarakat cukup mengenal "Bobobox", sebuah jaringan hotel kapsul yang tengah "hype" dan menjadi tren saat ini, terutama di kalangan anak muda yang ramah dengan gawai (gadget).

Kesuksesan nan terkenalnya Bobobox, ada sosok-sosok muda yang penuh inovasi dan pantang menyerah dalam berbagai situasi, namun di balik suksesnya sekarang ini, siapa sangka banyak cerita yang menarik dan menginspirasi.

Pekan lalu, ANTARA berkesempatan untuk sedikit berbincang dengan Indra Gunawan, salah satu pendiri jaringan hotel kapsul yang kini sudah terdapat 15 cabang dengan berbagai jenis, dan tersebar di tujuh kabupaten/kota seluruh Indonesia.

Pria kelahiran Bandung pada 36 tahun lalu ini menceritakan awal mula dirinya beserta rekan-rekannya menciptakan Bobobox dan membesarkan hingga sekarang, adalah buah dari pengalaman dan kegagalan usaha sebelumnya.

Awal mula, Indra menceritakan setelah dirinya berhasil membuat usaha rintisan di bidang "game" diakuisisi oleh Emtek (holding pemegang lisensi BBM dengan Blackberry Limited) pada 2012, dia bersama rekannya Antonius Bong, juga membuka usaha rintisan baru berbasis daring bernama "cantik.com".

Cantik.com yang merupakan "marketplace" untuk fasyen wanita, didirikan Indra bersama rekannya usai melakukan penilaian bahwa sektor ini memiliki pangsa pasar yang besar, mengingat bidang "fashion" yang sedang naik daun serta konsumen "online"
terbesar adalah wanita.

"Tapi ini adalah kegagalan total. Karena ide awalnya cantik.com adalah marketplace untuk menjual pakaian wanita, tapi boleh dikatakan dua cowok membuat hal ini adalah bukan ide bagus, kita tidak mengerti apa-apa. Omzetnya memang besar, tapi unit keekonomiannya tidak masuk, inventory-nya enggak muter," ucap Indra.

Akhirnya, di tahun yang sama, kedekeitu mengambil pekerjaan sebagai konsultan pada sebuah perusahaan internasional dari China, dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehingga mereka berusaha untuk realistis dalam hal pendapatan yang stabil.



Namun, meskipun memiliki pekerjaan yang mumpuni dengan upah tergolong besar, Indra menyebut perasaan rindu untuk membuat produk dan mencari solusi atas permasalahan yang terjadi tetap tersimpan dalam dadanya, sehingga dia mengungkapkan keinginannya tersebut pada sahabatnya untuk menciptakan unit usaha rintisan sekali lagi dengan persiapan yang lebih matang.

Alasan keinginan untuk membuat "startup" kembali, adalah karena jenis usaha ini memiliki perkembangan skalabilitas atau sistem yang luas bisa tumbuh dengan cepat, akan tetapi faktor ketidakpastiannya juga tinggi mengingat usaha startup menawarkan unsur kebaruan di dalamnya, sehingga meningkatkan risiko kegagalan berinvestasi.
Unit kapsul Bobobox awal yang ditempatkan di Hotel Nyland Bandung. (ANTARA/HO-Bobobox)

Lahirnya Bobobox
Mengingat risiko pada jenis usaha startup yang tinggi namun memiliki aspek skalabilitas yang luas, kedua pemuda tersebut berusaha memikirkan mencari sebuah produk yang tak lekang oleh masa, skalabilitas yang luas, namun menjamin keberlangsungan sehingga tidak membuang investasi sia-sia.

Di poin tersebut, mereka sadar harus menemukan produk yang memiliki skalabilitas tinggi, maka harus membuat solusi yang bisa jadi bagian dari gaya hidup, yang merupakan kebutuhan primer namun belum terfasilitasi maksimal.

Kebetulan, Indra merupakan keluarga dari pemilik dan pengelola Hotel Nyland di daerah Cipaganti Bandung yang kini dikelola oleh saudara perempuan, dan di tengah pekerjaannya sebagai konsultan dia masih sempat membantu usaha keluarga tersebut.

Berangkat dari keinginannya membuka usaha dan diskusi bertukar pikiran dengan adiknya yang mengungkapkan beratnya menjalankan usaha hotel karena biaya besar namun pemasukan yang cenderung tetap, meski pasar sektor ini tergolong besar dengan pertumbuhan wisatawan yang tengah meningkat tinggi hingga tiga kali lipat per tahun pada tiga tahun terakhir (2014, 2015, dan 2016), akhirnya Indra memutuskan satu kata kunci, yakni "tidur".

"Kita melihat tidur menjadi sebuah kebutuhan hidup dan masih banyak solusi yang dapat diberikan terkait tidur untuk di eksplorasi," ucapnya.

Dengan motivasi mencari lebih jauh lagi dan bekal dua isu ini yakni tidur serta hotel yang harus stabil, dan kebetulan sedang tumbuh pesatnya hotel kapsul di dunia saat itu, dia menyempatkan diri untuk menyambangi fasilitas hotel kapsul di berbagai negara dari Asia Tenggara sampai Amerika.

Dari perjalanan antara 2016 hingga awal 2017 itu, dia menemukan meski perkembangannya sangat baik, hotel kapsul rata-rata hanya bisa membuka dua sampai tiga cabang dikarenakan kepemilikan aset di lokasi strategis.

"Dari situ keluarlah ide bahwa unit kapsul saya harus yang modular (tidak permanen) dengan efisiensi ruang dalam unitnya, dan tidak harus memiliki set lokasi. Karena saya melihat startup harus scalable dan asset light," ungkap Indra.



Kemudian, Indra menyampaikan ide tersebut ke Anton yang menanggapi dingin gagasan usaha itu, karena rekannya itu menilai tidak mungkin masyarakat mau tidur dalam sebuah kapsul dengan ruang terbatas, berbagi kamar mandi dan fasilitas lainnya.

Hingga akhir 2017, dia menceritakan ide ini ke adiknya dan meminta izin untuk merubah satu kamar di Hotel Nyland menjadi konsep kapsul dengan menempatkan satu set "pods" atau dua unit boks atas-bawah dengan sederhana dan belum dilengkapi teknologi tinggi.

"Saya hanya bilang pada resepsionis jika ada tamu, tolong tawarkan harga diskon 50 persen dari harga kamar di hotel saat itu sebesar Rp340 ribu, dengan ketentuan tidur di kapsul dan kamar mandi sharing, dan ternyata luar biasa," kata Indra sambil mengingat masa tersebut.

Tak disangka sebulan setelah diluncurkan, okupansi unit kapsul di Hotel Nyland mencapai 98 persen. Berbekal data-data yang dikumpulkannya dari "pilot project" tersebut, dia kembali mendatangi Antonius Bong dan akhirnya berhasil meyakinkan untuk melakukan pengumpulan dana (fundraising) dan membentuk perusahaan bernama Bobobox.

Akhirnya pada Bulan Juni 2018, setelah proses fundraising sejak awal Januari 2018, Hotel Bobobox pertama di Pasir Kaliki Bandung pun berdiri, dan Hotel Nyland kini juga menjadi hotel Bobobox yang setengahnya menjadi unit kapsul, dengan kapsul-kapsul awal saat hotel ini dirintis masih terdapat di sana.
Ekspansi
Saat ini, Bobobox telah memiliki 15 cabang yang tersebar pada tujuh kabupaten dan kota di Pulau Jawa dengan berbagai jenis fasilitas mulai dari Bobohotel (Bobobox Pods), Boboliving dan Bobocabin.

Setelah perkembangan luar biasa dalam tiga tahun terakhir, Bobobox yang kini memiliki sekitar 220 staf di seluruh lokasi jaringannya, nampaknya tak akan berhenti untuk berkembang, bahkan kini Bobobobox tengah mengembangkan Bobovan (dengan mobil) dan Boboexpress (fasilitas di sarana umum).

Berangkat dari keunikannya di belantika industri perhotelan, Bobobox berhasil mendapat dukungan pendanaan dan kepercayaan dari nama-nama investor besar, seperti Alpha JWC Ventures, Horizons Ventures, Sequoia Surge, Mallorca Investments, Genesia Ventures, Agaeti Ventures, EverHaus, Kakao Ventures, dan InvestIdea Ventures.

Pada Mei 2020, Bobobox berhasil mendapatkan investasi Series A dengan total 11,5 juta dolar AS yang membuat Bobobox sudah mulai membidik daerah di luar Pulau Jawa, dengan yang terdekat adalah Sumatera Utara, yakni di kawasan Otorita Danau Toba yang akan diarahkan untuk produk Bobocabin yang saat ini hanya tersedia di Ranca Upas, Kabupaten Bandung dan Cikole, Kabupaten Bandung Barat.

Bahkan, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno, pada Rabu (9/6) lalu, yang meninjau proses pembangunan fasilitas Bobobox di kawasan Otorita Danau Toba itu.

Selain terus berekspansi membangun jaringan dengan pendanaan sendiri, Bobobox juga membuka opsi kemitraan, baik dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), pihak swasta maupun individu yang memiliki aset properti dan belum terutilitas baik.

Misalnya ruko yang tidak terpakai, gudang, bekas kantor, bekas rumah, sepanjang properti tersebut terletak di lokasi yang startegis menurut tim penilai dari Bobobox, maka pemilik dapat melakukan kerja sama dengan startup tersebut.

Model bisnis kemitraan juga terbuka untuk investor yang berminat masuk ke bisnis Bobobox. Investor dapat terlibat pendanaan proyek, maupun bekerja sama terkait kepemilikan lahan.



Salah satu syaratnya adalah fasilitas Bobobox dapat dilakukan pada bangunan yang minimal mampu mengakomodasi 16 pods dengan luas 225 meter persegi.

Untuk Bobocabin, misalnya, investor maupun pemilik lahan dapat berpartisipasi dalam pemilikan di proyek bersama. Dalam hal kerja sama, studi pasar akan disediakan oleh Bobobox, lalu komposisi kepemilikan unit, atau proyek dapat dilakukan berdasarkan keinginan calon "partner".

"Kita lihat apakah lokasinya cocok atau tidak, jika ingin bermitra persentasi saham akan disesuaikan dengan kontribusi dari nilai proyek. Untuk bagi hasilnya, tergantung dari kontribusi yang ingin mitra masukkan ke dalam proyek, misalkan proyek Rp10 miliar, mitra memasukkan dana Rp5 miliar, berarti komposisi 50:50 saham antara mitra dengan Bobobox, tapi kadang ada mitra yang bilang yang ingin invest lebih besar, tentunya akan mendapat porsi saham lebih besar," tutur Indra.

Sementara untuk calon rekan bisnis yang hanya memiliki aset lahan tanah atau bangunan, Bobobox dapat memvaluasi nilai investasi berdasarkan harga sewanya menurut harga pasar.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar