Myanmar tetapkan Pekan Berkabung Nasional pascagempa mematikan

id gempa Myanmar,gempa bumi,hari berkabung nasional

Myanmar tetapkan Pekan Berkabung Nasional pascagempa mematikan

Petugas mengangkat bantuan yang akan dikirim ke Myanmar di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (31/3/2025). Pemerintah Indonesia memberikan bantuan kepada rakyat Myanmar yang terdampak bencana gempa yang akan diberangkatkan hari ini sekitar 12 ton berupa tenda, makanan, selimut, dan 39 personel yang bertugas untuk menyiapkan segala sesuatunya untuk kedatangan bantuan tambahan yang lebih banyak pada tanggal 3 April 2025. ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/foc/pri.

Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Myanmar pada Senin (31/3) menetapkan masa berkabung nasional selama tujuh hari menyusul gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang negara itu pada Jumat (28/3).

Selama masa berkabung, bendera nasional akan dikibarkan setengah tiang sebagai bentuk penghormatan kepada para korban, demikian disampaikan media pemerintah MRTV.

Hingga kini, jumlah korban tewas akibat bencana tersebut telah melampaui 1.700 jiwa. Sementara itu, sebanyak 3.400 orang dilaporkan terluka dan sekitar 300 lainnya masih dinyatakan hilang.

Baca juga: Gempa bermagnitudo 7,7 di Myanmar: Jumlah korban tewas sudah lebih dari 1.000

Pemimpin junta militer Myanmar, Min Aung Hlaing, dikabarkan telah melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon dengan Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim. Keduanya membahas situasi terkini, upaya penyelamatan, serta kemungkinan bantuan lebih lanjut.

Sejumlah negara sahabat seperti Rusia, India, China, Thailand, Uni Emirat Arab (UEA), serta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), juga telah mengirimkan tim pencarian dan penyelamatan, di samping bantuan kemanusiaan untuk mendukung penanganan bencana.

Sumber: Anadolu

Baca juga: "Seperti Kiamat", Warga Myanmar ceritakan dahsyatnya gempa kembar magnitudo 7,7

Baca juga: Gempa magnitudo 6.0 guncang Wanokaka, NTT





Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Myanmar umumkan tujuh hari berkabung nasional pascagempa mematikan

Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2025