Sleman (ANTARA) - Masyarakat Anti-Fitnah Indonesia (Mafindo) menegaskan komitmennya untuk mendorong inklusi digital bagi kelompok lanjut usia (lansia) dalam era transformasi digital yang terus melaju.
Komitmen ini disampaikan dalam peluncuran hasil survei "Most Significant Changes" program Tular Nalar bertajuk "Menyelamatkan Masa Tua di Linimasa" di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu.
Presidium Mafindo Syifaul Arifin pada kesempatan tersebut mengatakan bahwa teknologi itu seperti api, penting dan tak bisa lagi dijauhkan dari kehidupan manusia.
"Prinsip no one is left behind harus dipegang teguh dalam setiap langkah transformasi digital. Lansia bukan objek pasif, mereka juga ingin ikut serta, ingin didengar, dan ingin menyuarakan kisahnya," katanya.
Menurut dia, survei yang dipublikasikan menunjukkan bahwa mayoritas lansia masih mengandalkan media tradisional seperti televisi dan radio.
"Namun, seiring meningkatnya pendampingan dari keluarga dan komunitas, lansia mulai berani menjelajah dunia digital. Beberapa bahkan mulai mendokumentasikan cerita keluarga dalam bentuk audio-visual dan membagikannya di media sosial," katanya.
Ia mengatakan, salah satu kisah inspiratif datang dari seorang ibu yang aktif membagikan pengalamannya di TikTok dan berhasil menginspirasi ribuan warganet. Dunia digital telah membuka ruang baru untuk berbagi, menyembuhkan luka dan membangun koneksi antargenerasi.
"Namun demikian, tantangan tetap ada. Rasa malu, kurang percaya diri, dan keterbatasan teknis masih menjadi kendala utama. Meski demikian, semangat lansia untuk belajar terus tumbuh. Banyak yang mulai rutin datang ke kegiatan literasi digital demi mengenal lebih dalam dunia baru ini," katanya.
Program Manager Tular Nalar Giri Lumakto mengatakan bahwa pendekatan Mafindo disesuaikan dengan karakteristik lansia, termasuk menggandeng komunitas lokal seperti Bengdi yang berperan dalam pemetaan dan identifikasi sasaran.
"Hingga saat ini, tim telah menjangkau lebih dari 200 lansia. Kami memperkenalkan teknologi secara bertahap sambil mengajak mereka mengenang masa kejayaan radio dan televisi. Tujuannya agar mereka merasa dekat dan nyaman dengan informasi digital," katanya.
Menurut dia, literasi digital kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan dasar hidup.
"Mafindo akan terus memperluas program literasi digital secara inklusif dan partisipatif. Sebagaimana cita-cita bangsa sejak 1945, tidak boleh ada satu pun warga negara yang tertinggal, termasuk di dunia digital," katanya.
Program Officer Tular Nalar Dwitasari Teteki Bernadeta mengatakan bahwa perhatian terhadap lansia bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa.
"Mafindo melalui berbagai proyeknya berkomitmen untuk terus mendampingi dan memberdayakan mereka," katanya.
