Akademisi UGM: Indonesia tak perlu tergesa sikapi konflik Iran-Israel

id RI,UGM,Iran-Israel

Akademisi UGM: Indonesia tak perlu tergesa sikapi konflik Iran-Israel

Suasana upacara pemakaman kenegaraan untuk para komandan militer dan ilmuwan nuklir yang tewas selama konflik 12 hari dengan Israel diadakan di Teheran, Iran, Sabtu (28/6/2025). Beberapa komandan senior, ilmuwan nuklir, dan warga sipil Iran tewas dalam serangan Israel sejak 13 Juni 2025. ANTARA FOTO/Xinhua/Sha Dati​​​​​​/nym.

Yogyakarta (ANTARA) - Guru Besar Geopolitik Timur Tengah Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Dr. Siti Mutiah Setiawati menilai pemerintah Indonesia tidak perlu tergesa-gesa menentukan sikap terhadap konflik bersenjata antara Iran dan Israel.

"Posisi Indonesia dalam menghadapi konflik ini tidak boleh gegabah. Pemerintah mesti bersikap hati-hati dan menunggu perkembangan yang terjadi untuk melihat apakah bisa masuk sebagai penengah," ujar Siti dalam keterangannya di Yogyakarta, Minggu.

Menurut Siti, situasi di kawasan Timur Tengah saat ini masih sangat dinamis, meski kedua negara sepakat menghentikan serangan setelah 12 hari perang.

Konflik itu bermula saat Israel menyerang fasilitas pengembangan nuklir Iran pada 13 Juni, yang kemudian dibalas Iran dengan meluncurkan ratusan pesawat nirawak dan rudal ke pusat-pusat penelitian dan kilang minyak milik Israel.
Baca juga: Trump geram media sebut AS bantu Iran

Menurut Siti, eskalasi konflik semacam itu bukan hal baru dan sarat dengan kepentingan global.

Dia menyoroti keterlibatan Amerika Serikat sejak lama, terutama dalam isu tuduhan pengembangan senjata pemusnah massal oleh Iran.

Karena itu, ia menilai langkah paling memungkinkan saat ini bagi pemerintah Indonesia adalah memastikan keselamatan warganya di wilayah konflik.

"Sementara ini, yang dapat dilakukan pemerintah Indonesia adalah untuk mengevakuasi WNI yang berada di Iran dan Israel sebagai langkah perlindungan awal," ujar dia.

Siti berharap gencatan senjata ini bisa menjadi awal menuju penyelesaian yang lebih permanen.

Baca juga: Sikap Putin terhadap konflik Israel-Iran (Bagian 4)

Dia juga mengingatkan Pemerintah RI agar terus memantau perkembangan dan bersiap menghadapi kemungkinan eskalasi lanjutan.

"Pemerintah harus terus mengamati situasi, tetapi jangan tergesa mengambil sikap atau langkah diplomatik yang belum tentu bisa dijalankan secara efektif," ujar dia.

Sebelumnya, Israel melancarkan operasi skala besar terhadap Iran pada dini hari tanggal 13 Juni, serta menuduh Negeri Para Mullah itu melaksanakan program nuklir militer rahasia.

Teheran membalas dengan meluncurkan Operasi True Promise 3 pada malam hari tanggal 13 Juni, yang menyerang target militer di dalam Negeri Zionis itu.

Kemudian pada 22 Juni, Amerika Serikat menyerang tiga lokasi nuklir Iran — di Natanz, Fordo, dan Isfahan.

Baca juga: G7: Iran tidak boleh mengembangkan senjata nuklir

Presiden AS Donald Trump mengatakan setelah serangan AS itu bahwa Teheran "sekarang harus setuju untuk mengakhiri perang ini" atau bakal menghadapi konsekuensi yang jauh lebih serius.

Selanjutnya pada Senin (23/6), Iran melancarkan serangan rudal ke Pangkalan Udara Al Udeid milik Amerika Serikat di Qatar sebagai tanggapan atas serangan AS tersebut.

Trump mengatakan pada Senin malam bahwa Israel dan Iran telah menyetujui gencatan senjata.

Pada Selasa (24/6), Trump mengatakan bahwa gencatan senjata antara Iran dan Israel sekarang berlaku.

Baca juga: Mendag: Konflik Iran-Israel tak pengaruhi kinerja ekspor RI

Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.