Jakarta (ANTARA) - Bantuan selalu terdengar mulia saat diumumkan. Ia membawa harapan, terutama bagi mereka yang sedang terdesak.
Hanya saja, ketika bantuan berubah menjadi proyek yang berlapis anggaran dan administrasi, niat baik tak lagi berjalan sendirian. Ada godaan yang ikut menyertai, menguji integritas para pengelolanya, dan diam-diam menentukan apakah bantuan benar-benar sampai sebagai empati, atau justru tersesat dalam kepentingan.
Dalam setiap skema bantuan sosial, negara kerap datang membawa bahasa yang sama: kepedulian, kehadiran, dan keberpihakan. Baik bansos rutin, bantuan insidental, hingga bantuan bencana, semuanya berangkat dari niat yang tampak mulia, menolong mereka yang sedang berada di titik paling rapuh.
Persoalan mulai muncul, ketika empati itu diterjemahkan ke dalam mekanisme yang terlalu teknokratis: proyek.
Begitu empati diproyekkan, ia masuk ke dunia anggaran, pengadaan, laporan, dan target serapan.
Bantuan tak lagi sekadar soal siapa yang paling membutuhkan, melainkan juga soal siapa yang mengelola, siapa yang mencatat, dan siapa yang menandatangani.
Pada bagian ini, jarak antara niat dan praktik mulai melebar. Kepedulian yang seharusnya lentur berubah kaku mengikuti tabel dan termin.
Bantuan sosial sesungguhnya selalu lahir dalam relasi yang timpang. Penerima berada dalam posisi lemah, sementara pemberi memegang kuasa penuh atas distribusi dan keputusan. Ketimpangan ini seharusnya menuntut kehati-hatian dan etika yang lebih tinggi.
Baca juga: Dinsos Bantul sebut 1.337 KPM keluar dari daftar penerima bansos PKH
