Yogyakarta (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta mengembangkan pertanian terintegrasi dengan pengolahan sampah di lahan milik pemkot setempat, di Tegal Gendu, Prenggan, Kecamatan Kotagede.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, di Yogyakarta, Selasa (2/9), mengatakan lahan milik Pemkot Yogyakarta seluas sekitar 1.500 meter persegi di Tegal Gendu belum dimanfaatkan.
"Nanti kami bikin biopori di sini, olah sampah yang tidak bau karena sampah bersih (organik dari dapur) hanya untuk pelihara maggot hasilnya untuk pertanian. Ini nanti basisnya pertanian. Jadi kami bikin pupuk di sini, terus ada demplot percontohan cabai, terong atau pisang," kata Hasto.
Baca juga: Warga Gedongkiwo manfaatkan daur ulang sampah untuk karnaval HUT ke-80 RI
Hasto mencontohkan pertanian terintegrasi dengan pengolahan sampah sudah diterapkan di Bausasran.
Sampah organik diolah dengan biopori dan sisa makanan dipakai untuk memelihara maggot. Hasilnya, maggot dimanfaatkan untuk pakan lele dan pupuknya digunakan untuk pertanian.
"Jadi semua diintegrasikan dengan pengolahan pupuk bisa menyelesaikan (sampah) satu wilayah Prenggan. Ini (lahan) sudah milik pemkot. Jadi bisa segera kami mulai. Bisa kami gali bikin biopori secara komunal dan bukan sampah yang berbau," ujar dia.
Baca juga: DKP DIY minta warga tidak buang sampah sembarangan cegah penyu mati
Menurut Hasto, pemanfaatan lahan dengan pertanian terpadu sekaligus pengolahan sampah itu sejalan dengan Gerakan Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas Jos).
Ia pun menegaskan pentingnya memilah sampah dari rumah, sehingga sampah dapur organik bisa dimasukkan ke biopori maupun pakan maggot.
"Jadi model seperti ini akan saya cari untuk menyelesaikan sampah di lingkungan masing-masing," ujarnya lagi.
Baca juga: Komunitas anak muda kelola 22 ton sampah di Yogyakarta dalam setahun
