Yogyakarta (ANTARA) - Pemerintah Kota Yogyakarta merancang konsep wisata budaya partisipatif melalui program bule mengajar dengan melibatkan wisatawan mancanegara dalam aktivitas sosial dan kebudayaan masyarakat.
"Sebagai bentuk apresiasi, wisatawan yang mengikuti program kita beri sertifikat penghargaan, ya dari Wali Kota atas partisipasi mereka dalam kegiatan sosial dan kebudayaan," ujar Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo dalam keterangan di Yogyakarta, Rabu.
Program tersebut, kata Hasto, dirancang sebagai aktivitas edukatif sekaligus atraksi wisata, khususnya bagi wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Kota Gudeg.
Melalui skema itu, wisatawan tidak sekadar menjadi penonton, tetapi terlibat langsung dalam aktivitas belajar dan berbagi pengetahuan bersama masyarakat, termasuk pengenalan budaya lokal, kedisiplinan, serta interaksi sosial dengan warga dan anak-anak.
Menurut Hasto, pengembangan kebudayaan perlu melahirkan karya, kreativitas, dan inovasi yang memberi dampak langsung bagi masyarakat.
"Kalau karya, kreativitas, dan inovasi terus lahir, itu sudah menjadi modal besar. Tinggal bagaimana kita menyusunnya menjadi rencana yang memberi daya ungkit bagi ekonomi dan kemajuan wilayah," kata dia.
Baca juga: Hasto Wardoyo: Malioboro "zero" copet saat malam tahun baru
Baca juga: Malioboro Yogyakarta ditutup untuk kendaraan jelang berganti tahun
Program bule mengajar juga dirancang digelar pada waktu-waktu tertentu, seperti Sabtu pagi, saat aktivitas wisata relatif tidak padat.
Dengan pengaturan waktu tersebut, Pemkot Yogyakarta berharap kegiatan sosial dan kebudayaan berjalan beriringan dengan aktivitas pariwisata tanpa saling mengganggu.
Sementara itu, perwakilan Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta Setyo Harwanto menyampaikan bahwa Kota Yogyakarta saat ini memiliki Indeks Pembangunan Kebudayaan sebesar 73,79, tertinggi secara nasional.
Selain itu, terdapat lebih dari 400 komunitas dan pelaku seni budaya yang telah memiliki kesadaran hukum dan kelembagaan.
Namun demikian, Setyo menilai Yogyakarta masih menghadapi tantangan besar berupa tekanan gentrifikasi pariwisata, yakni ketika pertumbuhan usaha dan atraksi budaya belum sepenuhnya memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.
"Perputaran uang sering kali tidak tinggal di Yogyakarta. Ini menjadi tantangan bagaimana kebudayaan bisa naik kelas, dari program yang berorientasi kegiatan menjadi program yang berorientasi pasar, tanpa kehilangan nilai budaya," ujar dia.
Baca juga: Satpol PP Kota Yogyakarta menggencarkan penertiban PKL di Malioboro
Baca juga: Pemkot Yogyakarta memastikan akses kendaraan ke Malioboro tak ditutup saat Nataru
