Selami dunia kompetisi fotografi melalui Talkshow di Balik Lensa

id pameran foto, pameran foto,fotografi,talkshow,di balik lensa,fotografer

Selami dunia kompetisi fotografi melalui Talkshow di Balik Lensa

Seorang pengunjung tengah memerhatikan foto pada Pameran Fotografi Rana Budaya #3: Still Culture, di Gedung Societeit Taman Budaya Yogyakarta pada Senin (8/9).  ANTARA/Rahid Putra Laksana

Yogyakarta (ANTARA) - Program Harian Rana Budaya kembali menghadirkan gelar wicara bertajuk “Di Balik Lensa: Melihat Kompetisi Fotografi dari Perspektif Peserta dan Penyelenggara” di Gedung Societeit Taman Budaya Yogyakarta pada Senin (8/9).

Acara ini menjadi bagian dari rangkaian Pameran Fotografi Rana Budaya #3: Still Culture yang berlangsung pada 5–13 September 2025 yang mengupas tuntas dinamika kompetisi fotografi dari dua sudut pandang yang berbeda, yakni penyelenggara dan peserta.

Sahite Firdaus, narasumber yang berpengalaman sebagai penyelenggara kompetisi foto sejak 2012, berbagi perjalanan dan wawasan dalam mengelola acara lomba fotografi. Sementara itu, Galih Putra Utama, peserta aktif kompetisi sejak 2022, mengungkapkan tantangan yang dihadapi sebagai peserta.

Sahite menekankan pentingnya sponsor dan tujuan lomba sebagai faktor penentu arah kompetisi. Ia menuturkan bahwa pemilihan tema sangat bergantung pada tujuan lomba itu sendiri.

Baca juga: Menbud sebut mengenal budaya luar bisa bangun persaudaraan

Ia mengakui sering kali peserta gagal memenuhi syarat-syarat sederhana, seperti penggunaan hashtag yang benar atau ketepatan waktu pengumpulan karya.

Sahite merasa bahagia dapat menyelenggarakan lomba yang mempertemukan banyak orang, membangun koneksi, dan membuka peluang baru.

Sementara Galih menyoroti peran tema sebagai acuan utama peserta, yang diibaratkannya sebagai brief dari klien yang harus dipahami dengan teliti.

"Tema itu ibarat brief dari klien. Harus dipahami benar. Jangan lupa juga syarat dan ketentuan, mulai dari caption, deadline, sampai penggunaan hashtag. Hal kecil itu sering membuat peserta gugur,” kata Galih.

Bagi Galih, proses pencarian objek dan pemilihan foto yang tepat sesuai tema adalah tantangan yang membuatnya terus tertarik berkompetisi.

Baca juga: Fadli Zon ajak publik kenang perjuangan pendiri bangsa lewat pameran foto

Sahite maupun Galih sepakat bahwa dunia lomba fotografi memberikan kepuasan tersendiri.

Manajer Program Taman Budaya Yogyakarta Adnan Aditya, menjelaskan bahwa talkshow dengan dua perspektif ini bertujuan memberikan pemahaman menyeluruh kepada audiens mengenai ekosistem fotografi.

Adnan juga menambahkan bahwa lomba fotografi harus dilihat lebih luas sebagai bagian dari ekosistem yang dapat memperluas jaringan, menemukan spot baru, serta memperoleh perspektif baru dari human interest.

"Harus dilihat lebih luas sebagai ekosistem. Dari lomba, fotografer bisa memperluas koneksi, menemukan spot-spot baru, sampai mendapat perspektif baru dari human interest," tutupnya.


Baca juga: Foto budaya seniman petani dipamerkan di Festival Lima Gunung

Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.