Yogyakarta (ANTARA) - Dosen Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Fikri Disyacita menilai fenomena perundungan di lingkungan kampus kini semakin mengkhawatirkan.
Hal itu disampaikan dalam acara "Sekolah Pecinta Indonesia" yang digelar di KPLT lantai 3 Fakultas Teknik UNY pada Sabtu.
Salah satu tragedi yang disoroti saat ini adalah di kampus Universitas Udayana.
Menanggapi pertanyaan seorang mahasiswa yang mengangkat kasus tragis di Universitas Udayana dan Sriwijaya, Fikri menjelaskan bahwa pasivitas mahasiswa saat menyaksikan perundungan berakar pada psikologi kerumunan.
"Kejahatan banyak terjadi karena kerumunan itu merasa lebih aman ketika dia tidak keluar dari kerumunan itu. Ketika kita berdiri, speak up untuk membela teman kita yang dibully, kita pasti akan kepikiran, kalau aku dibully juga gimana?" ujar Fikri.
Dia mencontohkan fenomena kecelakaan di jalan raya, di mana respon pertama orang adalah merekam dan menonton, bukan menolong.
"Harus ada satu yang jadi kompor supaya yang lain itu ikut membantu. Ini juga termasuk psikologi kerumunan," ujar dia.
Fikri juga menyoroti bagaimana perundungan telah tanpa disadari dinormalisasi dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari kebiasaan memanggil teman dengan nama orang tua hingga melalui dark jokes yang berkembang menjadi bullying secara terselubung.
"Dark jokes sekarang itu sudah berkembang menjadi buli terselubung. Atas nama 'kan cuma bercanda', 'kan cuma guyon', 'jangan dimasukin ke hati'. Nah ini juga penyakit teman-teman," kritiknya.
Dia menekankan bahwa perundungan tidak akan pernah bisa dibenarkan dengan alasan apa pun, ia mengajak mahasiswa untuk melakukan counter culture terhadap praktik-praktik tersebut.
Salsa, seorang mahasiswa yang hadir dalam acara tersebut, juga menanyakan kepada Fikri terkait konsistensi dalam menyuarakan isu dan sikap terhadap mahasiswa yang pasif.
Fikri di sini menanggapi dengan menekankan pentingnya pendekatan empati.
"Jangan-jangan orang itu punya masalah yang lebih besar, kita paham dulu. Misalnya ternyata dia itu sedang struggling dengan ekonomi. Pendekatannya itu lewat sesuatu yang menyentuh hati kita dulu," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa wajar jika semangat aktivisme mengalami pasang surut, dan mahasiswa perlu menjaga keseimbangan dengan mempelajari berbagai hal lain untuk tetap kreatif dan tidak cepat bosan.
Fikri menegaskan kepada seluruh peserta yang ada, terutama mahasiswa, terkait isu-isu sosial hingga peran kita sebagai pelopor dalam perubahan.
"Bisakah kita menjadi orang yang berdiri terdepan ketika melihat teman kita di-bully? Itu termasuk bentuk 'every day is political'. Kehidupan sehari-hari itu politis," ujar dia.
