Tiga shift disusun untuk pembagian tugas. Namun, pada praktiknya, jadwal tidak selalu monoton bahkan kadang tak berarti, apalagi saat momen ramai wisatawan.
Ketika ada kabar kecelakaan atau laporan orang hilang, seluruh personel dipanggil tanpa memandang jam dan posisi. Tak jarang ia menyetop waktu istirahat, bahkan saat bersantai bersama keluaga.
Andi memilih menjadi relawan bukan soal kebanggan atau gaji, melainkan dorongan untuk menolong, terinspirasi sosok pamannya yang juga pernah bertugas sebagai relawan SAR di pantai itu.

Komandan Regu Satlinmas Rescue Istimewa (SRI) Wilayah III, Al Andi Irawan. ANTARA/Luqman Hakim
Siaga di Pantai Selatan
Di momen libur Natal dan tahun baru seperti saat ini, bagi para relawan tantangan terbesar bukan sekadar soal ombak yang berubah-ubah, tetapi juga perilaku para pengunjung.
Sebagian wisatawan masih "ngeyel" atau bersikeras turun mandi di pantai kendati sudah diingatkan berkali-kali oleh relawan di garis ombak.
Ada yang berpegang pada keyakinan "saya bisa renang", padahal medan Parangtritis berbeda. Kawasan pantai itu memiliki palung atau cekungan di dasar laut yang dapat mengakibatkan pusaran air atau arus balik (rip current).
Di titik itu sudah ada papan larangan atau garis batas aman.
Berdasarkan catatan Satlinmas Rescue Istimewa (SRI) Wilayah III Parangtritis, sebagian besar kecelakaan laut terjadi di titik-titik seperti itu.
Menurut Rinto Rafli, Sekretaris SRI Wilayah III, setidaknya ada tujuh titik palung yang tersebar dari sisi timur hingga barat pantai. Di titik-titik itulah relawan berjaga, mengarahkan wisatawan agar menjauh dari jalur arus balik.
"Kalau musim hujan seperti sekarang, palung atau rip current justru lebih mudah terlihat. Airnya tenang seperti kolam, tidak ada buih putih. Orang awam lihatnya aman, tapi itu justru jalur arus balik," jelas Rinto.
Baca juga: Ayah dan anak jadi terduga pelaku penembakan di Pantai Bondi Sydney
Ia menjelaskan, titik-titik itu sering muncul di sekitar muara sungai kecil yang mengalir ke laut.
Karena itu, relawan hafal lokasi-lokasi rawan dan menempatkan pengawasan di empat shelter utama yang berfungsi sebagai pos pantau.
Pemerintah Daerah DIY menurunkan 328 personel Satlinmas Rescue Istimewa (SRI) untuk siaga selama libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
Kepala Satpol PP DIY Bagas Senoadji menyampaikan bahwa para personel ditempatkan di tujuh titik penjagaan, dengan lima titik di antaranya berada di sepanjang pesisir pantai selatan di DIY selama 24 jam.
Langkah itu ditempuh karena pada akhir tahun diperkirakan sebagian besar kunjungan wisata memang terpusat di pantai sehingga risiko kecelakaan laut meningkat.
Kebijakan itu juga seturut arahan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X agar pengawasan dan peringatan kepada wisatawan diperketat selama periode libur panjang di sepanjang garis pantai selatan yang membentang sekitar 113 kilometer di wilayah Gunungkidul, Bantul, hingga Kulon Progo.
Menjelang senja, langit mulai meredup di atas pantai yang populer dengan legenda Ratu Pantai Selatan Nyai Roro Kidul itu.
Di pos kayu setinggi dua setengah meter itu, Afif tampak kembali mencondongkan badan, matanya menyapu garis air yang berubah warna seiring turunnya cahaya.
Irfan duduk di sampingnya, memutar peluit di tangan seolah siap meniup kapan saja.
"Enggak berharap ada (kejadian) sih. Tapi sampai sekarang alhamdulillah aman!" kata Irfan, sambil tersenyum dari atas pos kayu.
Baca juga: Penembakan massal di Australia, korban tewas 12 orang
Baca juga: Pemda DIY terjunkan personel SRI amankan Pantai Selatan saat Nataru
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Mata tajam para penjaga Pantai Selatan
