Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Bidang Kehutanan IPB University Yanto Santoso menilai bencana Sumatera perlu dilihat secara menyeluruh dari berbagai aspek.
Hasil kajian ilmiah IPB University menunjukkan bahwa bencana longsor dan banjir bandang di Daerah Aliran Sungai (DAS) Garoga lebih dipengaruhi oleh kombinasi faktor alamiah mulai curah hujan ekstrem akibat siklon tropis Senyar hingga kemiringan lereng yang curam.
“Penilaian bencana harus dilakukan secara menyeluruh pada skala DAS, bukan secara parsial pada satu entitas usaha,” ujar Yanto dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu.
Hasil kajian itu menyimpulkan bahwa bencana longsor dan banjir bandang di DAS Garoga juga lebih dipengaruhi oleh kombinasi curah hujan ekstrem akibat Siklon Tropis Senyar, kondisi geologi berupa batuan induk liat masif yang kedap air, solum tanah yang tipis pada lereng-lereng curam, serta kemiringan lereng yang tinggi.
“Kondisi ini menyebabkan tanah dengan cepat mencapai batas mencair (liquid limit). Pada situasi seperti itu, longsor bisa terjadi baik di lahan terbuka maupun di kawasan berhutan,” kata Pakar Agrometeorologi dari Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University Idung Risdiyanto.
Ia menyebut hujan ekstrem akibat siklon tropis Senyar merupakan terbesar selama 40 tahun terakhir di Indonesia.
Baca juga: Kemenhut mendorong pemanfaatan kayu hanyutan pascabencana banjir untuk huntara
Terlebih, 10 hari sebelumnya terjadi hujan yang berurutan sehingga menyebabkan tanah menjadi jenuh dan sulit menyerap air.
Sementara itu, Pakar Ilmu Tanah IPB University Basuki Sumawinata menjelaskan curah hujan selama kejadian siklon mencapai 400 mm dalam 1–3 hari, jumlah yang jauh melampaui rata-rata bulanan.
“Curah hujan sebulan biasanya 150–200 mm. Ketika 400 mm turun hanya dalam beberapa hari, tanah tidak mungkin mampu meresapkan air, sehingga terjadi aliran permukaan yang masif,” katanya.
Ia menambahkan, bobot vegetasi besar di lereng curam justru dapat mempercepat terjadinya longsor ketika lapisan tanah kehilangan kestabilannya.
Selain itu, kajian juga menunjukkan aktivitas PT Tri Bahtera Srikandi (PT TBS) tidak memiliki bukti kuat sebagai penyebab utama (dominant cause) banjir bandang dan longsor di DAS Garoga, Sumatera Utara.
Baca juga: Korban bencana di Sumatera mendapat bantuan dana berlapis dari pemerintah
“Berdasarkan analisis spasial, hidrologi, geologi, serta hasil verifikasi lapangan, kegiatan PT TBS tidak dapat dinyatakan sebagai penyebab dominan banjir bandang dan longsor di DAS Garoga,” ujar dia.
Kajian IPB juga mencatat bahwa sebagian besar lahan PT TBS tidak berada dalam kawasan hutan negara, melainkan berstatus Areal Penggunaan Lain (APL) dan sebelumnya merupakan lahan garapan masyarakat yang ditanami karet, pinang, dan tanaman campuran lainnya.
Namun, proses pengurusan Hak Guna Usaha (HGU) dinilai tetap harus diselesaikan sesuai ketentuan, dan pengawasan negara tetap diperlukan untuk memastikan kepatuhan hukum.
Baca juga: Mensos tegaskan dapur umum tetap beroprasi selama tanggap darurat di Sumatera
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pakar IPB: Bencana Sumatera perlu dilihat secara menyeluruh
