Bantul (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, melakukan perbaikan bangunan sejumlah sekolah yang mengalami kerusakan akibat gempa bumi Pacitan M6.2 pada 6 Februari 2026, dengan dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD).
Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Bantul Nugroho Eko Setyanto, di Bantul, Minggu, mengatakan, tercatat ada tiga sekolah yaitu SD dan SMP di wilayah Kecamatan Jetis, dan SMP di wilayah Sewon yang rusak akibat goncangan gempa bumi beberapa hari lalu.
"Untuk dampak bencana gempa itu kemarin Alhamdulillah ada kebijakan dari Pak Bupati Bantul untuk kerusakan yang di SMP Sewon nanti ditangani lewat BTT (belanja tak terduga), kemudian yang SD dan SMP Jetis sudah ditangani lewat BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah)," katanya.
Menurut dia, dua sekolah di wilayah Jetis langsung ditangani oleh BPBD saat itu, dikarenakan kerusakan bangunan sekolah tidak terlalu parah, hanya bagian atap atau plafon yang runtuh karena tidak kuat menahan getaran gempa bumi tersebut.
"Jadi, kalau yang dua sekolah sudah tertangani oleh BPBD, karena kemarin kebetulan di BPBD Bantul ada anggaran sehingga bisa langsung diperbaiki. Kalau kerusakan itu bagian atap plafon, tapi Alhamdulillah dalam waktu dua hari selesai," katanya.
Baca juga: Gempa Magnitudo 4,8 guncang barat daya Pangandaran
Baca juga: Pemkab Bantul sebut kerugian akibat gempa Pacitan mencapai Rp1,3 miliar
Dia mengatakan, sementara untuk kerusakan yang SMP di Sewon saat ini masih dalam proses usulan perbaikan melalui BTT, setelah ada arahan dari Bupati agar diperbaiki melalui salah satu pos anggaran dalam APBD tersebut.
"Yang SMP Sewon itu perbaikannya menyusul. Sudah diusulkan tinggal menunggu pembahasan di tingkat TAPD (Tim Anggaran Pemerintah Daerah), kalau rusaknya ada beberapa yang retak, rusak atap dan lantai, tapi tidak terlalu berat," katanya.
Dia menyebut, kerusakan bangunan di SMP Sewon berupa tembok pembatas kamar mandi yang ambruk, kemudian retakan di dinding kelas 7E, retakan pada lantai teras kelas 7F sehingga posisi keramik tidak rata, kemudian lantai keramik kelas 8H yang bergelombang.
"Namun masih bisa dipakai, dan selama ini tidak mengganggu kegiatan sekolah, tapi tetap segera dilakukan perbaikan. Tinggal nunggu pembahasan di TAPD, mudah mudahan tidak lama, karena biasanya itu cepat kalau akibat gempa," katanya.
Baca juga: Direktur Gempa dan Tsunami BMKG mundur dan ajukan pensiun dini
