Logo Header Antaranews Jogja

JKN, "teman" setia kehamilan Dety Marlina saat suami di seberang lautan

Selasa, 24 Februari 2026 16:51 WIB
Image Print
Dety Marlina yang sedang berbaring di tempat tidur Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) Rumah Sakit Charitas Klepu menunjukkan JKN Mobile miliknya. ANTARA/Nur Istibsaroh

Yogyakarta (ANTARA) - Tetesan cairan infus tampak menetes perlahan dari selang yang tertuju ke tangan kiri Dety Marlina, yang sedang berbaring di tempat tidur Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) Rumah Sakit Charitas Klepu.

Rencana kepulangan yang awalnya sudah diizinkan dokter terpaksa batal, karena wanita berusia 34 tahun yang tengah mengandung buah hati ketiganya ini kembali mengalami mual-mual.

Di usia kandungan yang baru menginjak sembilan minggu, dirinya didiagnosis mengalami dehidrasi akut akibat mual muntah yang tak terbendung, atau dalam dunia medis kerap disebut sebagai hiperemesis gravidarum

"Minum tidak masuk, makan apalagi. Jangankan nasi, seteguk air putih saja tubuh langsung menolak. Badan rasanya sampai dingin dan gemetar karena lemas sekali," ujar Dety dengan suara lirih.

Kondisi Dety semakin diperberat dengan adanya infeksi saluran kencing (ISK) yang menyertainya, sehingga dalam satu bulan terakhir, ia sudah dua kali keluar masuk rumah sakit.

Di balik rasa sakit dan pucatnya wajah Dety, ia mengaku tenang dan tidak khawatir soal tagihan rumah sakit meskipun suaminya bekerja di seberang lautan, karena ada “teman” yang selalu setia yakni Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Dety yang tercatat sebagai peserta mandiri kelas III ini bersyukur iuran yang ia bayarkan setiap bulannya menjadi investasi ketenangan baginya juga keluarga.

"Sudah tidak pernah khawatir soal biaya kesehatan. Saya sudah tahu semua ditanggung JKN,” katanya tegas.

Ia menyebutkan sudah berulang kali menggunakan jaminan dari BPJS Kesehatan, termasuk saat melahirkan anak keduanya.

“Kalau anak pertama lahirnya di Malaysia. Saat itu saya masih kerja di Malaysia bersama suami, hamil, melahirkan di sana, terus pulang ke Indonesia. Nah saat hamil anak kedua, saya mengalami kontraksi palsu di usia delapan bulan dan saat itu juga dirawat di rumah sakit ini,” cerita Dety.

Ia mengakui saat kondisi mendadak dan menakutkan, Program JKN selalu mampu menjadi “teman” yang mampu meredam ketakutannya soal biaya.

“Bahkan saat itu saya mendapatkan penanganan intensif yang luar biasa. Saya pulang dengan tenang karena seluruh biaya dijamin penuh, tanpa keluar uang sepeser pun,” kenangnya.

Bagi Dety, kesehatan memang tidak bisa dibeli, tetapi jaminan kesehatan adalah jembatan yang memastikan bahwa setiap nyawa, termasuk janin di rahimnya, memiliki kesempatan yang sama untuk diperjuangkan.

Tidak hanya untuk urusan hamil dan persalinan, "teman" bernama JKN ini juga pernah menyelamatkan kesehatan putra sulung Dety yang harus menjalani terapi intensif akibat batuk parah di usia dua tahun, hingga prosedur bedah untuk pengangkatan benjolan dan proses sunat karena indikasi.

Semuanya dilewati dengan lancar tanpa kendala biaya, memberikan bukti nyata bahwa jaminan kesehatan ini hadir untuk seluruh anggota keluarga.

“Alhamdulillah BPJS Kesehatan sangat membantu. Jika sakit selalu menggunakan kartu JKN,” ucap Dety berulang mengucap kalimat itu.

Keputusan Dety untuk terus menjadi peserta aktif JKN segmen Peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) atau biasa disebut peserta mandiri adalah bentuk kesadaran akan prinsip gotong royong. Meski suaminya yang berada di luar negeri belum pernah merasakan manfaat langsung karena kondisi kesehatan yang prima, Dety tetap rutin membayar iuran.

Ia percaya bahwa uang yang ia setorkan setiap bulan mungkin sedang membantu ibu hamil lain di pelosok negeri yang sedang berjuang sepertinya.



Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026