Logo Header Antaranews Jogja

BGN komitmen memperkuat mutu respons menu MBG pada awal Ramadhan

Rabu, 25 Februari 2026 17:39 WIB
Image Print
Petugas menyiapkan telur rebus untuk paket Makan Bergizi Gratis (MBG) Ramadhan di Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pontianak Selatan di Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (23/2/2026). SPPG Pontianak Selatan mendistribusikan paket MBG sebanyak dua kali seminggu selama bulan Ramadhan kepada 2.556 penerima manfaat di enam sekolah tingkat PAUD, SD, SMP, dan SMA serta satu posyandu di wilayah sekitar dengan menu berupa telur rebus, lauk pauk setengah matang (diungkep), kurma, dan buah. ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/YU

Jakarta (ANTARA) - Badan Gizi Nasional (BGN) berkomitmen terus meningkatkan mutu untuk menanggapi banyaknya pemberitaan terkait menu dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada awal Ramadhan yang dinilai masyarakat masih belum memenuhi angka kecukupan gizi (AKG).

Hal tersebut disampaikan Kepala BGN, Dadan Hindayana saat menggelar rapat koordinasi bersama seluruh mitra dan kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk merespons dinamika di lapangan.

"Kami ingin memastikan bahwa pelaksanaan MBG Ramadhan tetap sesuai standar gizi, tepat sasaran, serta transparan dari sisi penggunaan anggaran. Evaluasi ini penting agar tidak terjadi kesalahpahaman di ruang publik," ujar Dadan dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Dadan menegaskan pihaknya terus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aspek kemasan, komposisi menu, hingga transparansi perhitungan AKG.

Ia meminta seluruh SPPG dan mitra untuk memperhatikan kemasan makanan. Makanan tidak boleh hanya dikemas menggunakan kantong plastik sederhana, tetapi harus ditempatkan dalam wadah yang lebih representatif, higienis, dan mampu menjaga kualitas makanan hingga diterima oleh para penerima manfaat.

Dadan juga menyoroti komposisi bahan pangan agar sesuai dengan pagu bahan baku yang telah ditetapkan. Menurutnya, menu kacang misalnya, dinilai memiliki harga relatif lebih mahal dibandingkan telur, sedangkan telur dinilai memiliki citra protein yang lebih baik dan lebih mudah diterima masyarakat.

Oleh karena itu, mitra diminta menyesuaikan komposisi menu dengan mengganti kacang menjadi telur tanpa mengurangi nilai gizi.

Dadan juga memastikan setiap SPPG menyusun penjelasan rinci terkait AKG dan harga masing-masing bahan pangan dalam setiap menu. Disebutkan, pagu anggaran harga bahan baku untuk balita hingga siswa SD kelas 3 sebesar Rp8.000, sementara untuk kelompok lainnya Rp10.000.

"Patokan dasar tersebut dapat berbeda sesuai indeks kemahalan daerah dan bersifat at cost, sehingga perlu dijelaskan secara terbuka kepada publik," ucap Dadan.

Dalam upaya menjaga kualitas makanan, setiap SPPG juga diminta mulai melakukan pengadaan peralatan vakum agar makanan lebih awet, higienis, dan tetap layak konsumsi saat didistribusikan. Langkah ini menjadi bagian dari penguatan standar keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG selama Ramadhan.

BGN mengingatkan agar mitra tidak memaksakan penggunaan bahan baku yang sudah dalam kondisi kurang baik. Jika ditemukan bahan yang tidak layak, distribusi dapat ditunda dan diinformasikan untuk diganti pada hari berikutnya. Kebijakan ini diambil untuk memastikan keamanan dan kesehatan penerima manfaat tetap menjadi prioritas utama.

"Kami tidak ingin ada kompromi dalam hal kualitas. Prinsipnya sederhana: makanan harus aman, bergizi, dan sesuai pagu. Jika ada bahan yang tidak layak, lebih baik diganti daripada dipaksakan. Ini bentuk tanggung jawab kami kepada masyarakat," tuturnya.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Respons isu menu MBG awal Ramadhan, BGN komitmen perkuat mutu



Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026