Jakarta (ANTARA) - Peneliti dari Lab Rekayasa Termal dan Sistem Energi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Ary Bachtiar Krishna Putra mengapresiasi kinerja Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia dan pemerintah yang berhasil menjaga ketahanan energi dan kelancaran pasokan bahan bakar minyak saat libur Lebaran.
Dia mengatakan kondisi tersebut tidak lepas dari pengalaman Bahlil dalam mengelola kebutuhan energi saat periode mudik Lebaran yang terjadi setiap tahun.
"Ya memang karena sudah event tahunan. Artinya secara pasokan mungkin pemerintah sudah punya jam terbang untuk menjamin keterisian dan harga dari BBM," kata Ary dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
Menurut Ary, kinerja Bahlil juga turut menepis ketakutan publik soal ketersediaan operasional BBM di tengah tensi geopolitik global yang memanas.
Dia menambahkan pola konsumsi BBM saat Lebaran sudah cukup terprediksi karena berlangsung dalam waktu terbatas, umumnya hanya sekitar satu pekan selama arus mudik dan balik. Hal ini membuat pemerintah lebih mudah mengantisipasi lonjakan permintaan.
"Kalau Lebaran kan memang penambahan karena mudik ya, itu juga dalam kategori mungkin semingguan, artinya dari berangkat sampai pulang," ujarnya.
Baca juga: Pemerintah jamin stabilitas ekonomi RI di tengah ketidakpastian global
Baca juga: Bahlil imbau warga pakai energi dengan bijak dan tidak timbun BBM
Selain itu, dia menyatakan perilaku masyarakat yang lebih bijak dalam menggunakan BBM juga turut berkontribusi terhadap stabilitas pasokan. Kekhawatiran terhadap potensi kelangkaan membuat masyarakat cenderung menahan konsumsi yang tidak perlu.
"Kalau masyarakat sudah mulai mengendalikan diri untuk tidak terlalu menghambur-hamburkan, manfaatnya terasa. Saya lihat di beberapa daerah, kondisi sudah tidak terlalu antre BBM," kata Ary.
Di sisi lain, Ary mengingatkan bahwa secara fundamental ketahanan energi Indonesia masih memiliki tantangan, terutama terkait kapasitas cadangan BBM yang relatif terbatas dibandingkan negara lain di kawasan.
Dia menambahkan cadangan energi nasional saat ini masih berada pada kisaran 20 hingga 28 hari, jauh di bawah negara seperti Jepang dan Singapura yang mampu menyimpan cadangan hingga berbulan-bulan.
Oleh karena itu, Ary mengatakan langkah pemerintah untuk menambah kapasitas penyimpanan BBM hingga 90 hari merupakan kebijakan strategis yang perlu segera direalisasikan guna memperkuat ketahanan energi nasional.
"Kalau bisa 90 hari sudah luar biasa. Artinya kalau harga pasar naik turun, kita masih punya waktu dan cadangan dari pengadaan sebelumnya," ujarnya.
Ary juga menyoroti peran program biodiesel, seperti B50, yang dinilai telah membantu mengurangi ketergantungan terhadap impor solar, meskipun untuk bensin Indonesia masih bergantung pada pasokan luar negeri.
Dengan kombinasi pengalaman pemerintah, pola konsumsi yang terprediksi, serta dukungan kebijakan energi yang berjalan, Ary mengatakan keberhasilan menjaga pasokan BBM selama Lebaran tahun ini menjadi indikator positif dalam pengelolaan energi nasional.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pakar: Menteri ESDM berhasil jaga ketahanan energi selama Lebaran
