Gunung Kidul (Antara Jogja) - Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, berupaya menumbuhkan industri perikanan untuk menggerakkan perekonomian nelayan dan pembudidaya ikan.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Gunung Kidul Agus Priyanto di Gunung Kidul, Kamis, mengatakan bahwea sejauh ini sudah berkembang usaha kecil yang bergerak mengolah hasil perikanan tangkap dan budi daya. Namun, masih sangat kecil dan keterbatasan alat dan modal.
"Kalau industri perikanan belum bisa disebut industri, lebih tepatnya produksi perikanan budi daya dan perikanan tangkap," kata Agus.
Ia mengatakan bahwa target produksi 2016 sebanyak 6.922.128 kg. Akan tetapi, hingga Triwulan III tercapai 78.88 persen. Komoditas ikan mas, tawes, nila, lele, gurami, bawal, patin, udang vaname, dan lele terbanyak 5.883.550 kg.
Untuk perikanan tangkap, target 4.382 ton, baru tercapai 32,1 persen dengan komoditas layur, kakap merah, lemuru, cakalang, madidihang, dan cumi-cumi.
"Untuk perikanan tangkap terkendala masalah cuaca dan keterbatasan sarana, sedangkan budi daya pasar, khususnya lele, turun minat pasarnya jadi produksi tidak terbeli pada musim panen," katanya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Nelayan Pantai Gunung Kidul Nardi mengatakan bahwa hasil tangkapan ikan saat ini menurun daripada sebelum adanya cuaca ekstrem ini. Pada kondisi normal, sekali melaut nelayan mendapatkan ikan yang mencapai sekitar 1 kuintal.
"Kalau sekarang hanya mencapai 500 kg," katanya.
Selain hasil tangkapan sedikit, menurut Nardi, cuaca buruk juga memengaruhi arus gelombang pantai sehingga jarak tempuh nelayan juga sudah sedikit berkurang dari biasanya.
Nardi mengatakan bahwa gelombang tinggi yang terjadi itu membuat alat pemancing maupun jaring ikan mengalami kerusakan sehingga tangkapan ikan yang semula penuh, menjadi berkurang dari biasanya.
"Sangat membahyakan kalau nelayan melaut. Gelombang cukup tinggi," katanya.
KR-STR