Sleman (ANTARA Jogja) - Pemerintah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menyelenggarakan sayembara penangkapan tikus di wilayah Kecamatan Moyudan yang sampai kini membuat gelisah petani.

Petugas pengendali organisme Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Wilayah I Moyudan Biyono di Sleman, Selasa, mengatakan, populasi hama tikus di Kecamatan Moyudan sedikitnya mencapai 25.000 ekor, sedangkan yang tertangkap baru 2.500 ekor.

"Kami akan memberikan imbalan, bagi petani yang mampu menangkap tikus. Setiap ekornya dihargai Rp500. Jangan dilihat dari nilainya, tapi ini bagian dari upaya pemberantasan tikus yang menyerang tanaman padi di Kecamatan Moyudan," kata Biyono.

Biyono mengatakan, pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk membasmi tikus mulai dari pengemposan, pengasapan dan penggropoyokan dan pendampingan terhadap petani. Tapi upaya ini tidak membawa hasil.

"Kami telah melakukan segala cara untuk memberantas tikus. Upaya terakhir membuat sarang burung hantu yang dipasang diarea persawahan milik petani," kata dia.

Dia mengatakan, saat ini sudah ada sekiditnya 40 sarang burung hantu yang tersebar diseluruh persawahan di Kecamatan Moyudan. Selain itu, pihaknya telah mengembangbiakkan burung hantu yang nantinya akan dilepas.

"Kami sedang menggalakkan pemasangan sarang burung hantu disawah milik petani. Selain itu, kami telah mengimbau kepada petani untuk memasang "orang-orang sawah" atau boneka yang dapat menakut-nakuti tikus," kata dia.

Anggota kelompok tani Subur Makmur Sumberagung Sudiyo mengatakan, pola serangan hama tikus tidak lagi malam hari melainkan siang hari. Serangan tikus terjadi antara 09.00 WIB hingga 15.00 WIB.

"Sebelum ada burung hantu, serangan tikus antara 18.00 WIB hingga 23.00 WIB. Tetapi pola itu berubah menjadi siang hari. Kami mengalami kesulitan membasmi serangan tikus. Kami sangat kualahan," kata dia.

Kelompok Tani Juwani Sumberagung, Jumingan, petani sering melupakan jarak tanam, sehingga tanaman padi mudah terserang hama. "Hama wereng dan tikus hanya menyerang blok-blok tertentu di area persawahan," katanya.

Untuk mendapatkan hasil panen yang memuaskan, dirinya menggunakan varietas padi cibagendil. Varietas ini tidak mudah terserang hama tikus, umur tanaman sangat pendek dibandingkan varietas unggul nasional ciherang, dan bulir-bulir padinya padat.

"Varietas cibagendi tidak mudah terserang tikus, apalagi wereng," katanya.

(KR-STR)