Bantul (Antara Jogja) - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta masyarakat Tionghoa meneladani tokoh bangsawan Tiongkok dibalik perayaan Peh Cun, yakni Qu Yuan sebagai sosok yang bersih dan antikorupsi.

"Artinya masyarakat Tionghoa itu hendaknya juga bersikap dan bertindak antikorupsi baik dalam pemerintah maupun menjalankan bisnis," kata Sultan di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu.

Saat memberikan sambutan pada Perayaan Peh Cun 2013 oleh masyarakat Tionghoa Yogyakarta di Pantai Parangtritis, Sultan mengatakan tradisi ini dirayakan untuk mengenang seorang bangsawan bernama Qu Yuan yang bunuh diri dengan menenggelamkan diri ke sungai.

Aksi bunuh diri tersebut, lanjut Sultan sebagai bentuk protes terhadap pemerintahan yang saat itu tidak sesuai dengan apa yang diinginkan rakyat yang mendambakan pemerintahan yang bersih dan anti korupsi.

"Dari ilustrasi singkat dan latar belakang dirayakannya Peh Cun yang masyarakatnya ingin mendambakan pemerintahan yang bersih dan anti korupsi itu, maka pada perayaan Peh Cun 2013 ini hendaknya juga diteladani sifat-sifat kejujuran," katanya.

Sultan juga mengatakan, selain itu melalui perayaan Peh Cun yang sudah menjadi tradisi di tengah masyarakat ini diharapkan juga menjadi momentum akulturasi budaya antara masyarakat Jawa dengan masyarakat Tionghoa.

"Kami berharap perayaan Peh Cun tidak hanya untuk sekadar akulturasi budaya, akan tetapi juga integrasi sosial, sebagai upaya membuka sekat sosial budaya dan dinding pemisah antara masyarakat Yogyakarta dengan Tionghoa," katanya.

Sultan memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan perayaan Peh Cun yang melibatkan masyarakat baik seniman dan budayawan setempat, sehingga diharapkan bisa menjadi media kolaborasi dalam memperkaya budaya di Yogyakarta.

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana Perayaan Pehcun 2013, Muwardi Gunawan mengatakan pada perayaan Peh Cun 2013 dimeriahkan oleh lomba festival perahu naga yang digelar pada 9 Juni dan festival barongsai pada 12 Juni 2013.

Menurut dia, ritual Peh Cun dilaksanakan pada pukul 12.00 WIB hingga pukul 12.30 WIB diawali dengan doa bersama masyarakat Tionghoa di pinggir pantai Parangtritis dan dilanjutkan dengan tradisi mendirikan telur di pelataran.

"Perayaan Peh Cun merupakan bagian ungkapan rasa syukur atas berkah yang berlimpah dan untuk hari yang penuh rahmat dan menjadi tradisi yang kemudian dilestarikan oleh masyarakat Tionghoa Yogyakarta," katanya.

Ritual digelar bertepatan dengan tanggal 5 bulan 5 penanggalan Tionghoa tepat pukul 12.00 WIB itu untuk mendirikan telur tanpa dipegangi, jika seseorang berhasil mendirikan telur tersebut dipercayai akan mendapat berkah.

(KR-HRI)