Perajin peci rajut Bantul kebanjiran pesanan

id perajin peci rajut bantul banjir pesanan

Perajin peci rajut Bantul kebanjiran pesanan

Perajin peci rajut di Kabupaten Bantul, DIY (Fotoantara/HerySidik)

Bantul (ANTARA Jogja) - Perajin peci rajut asal Dusun Mintoragan, Desa Wirokerten, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, memasuki bulan Ramadhan ini kebanjiran pesanan.

"Saya sampai kewalahan memenuhi pesanan, karena pesanan peci banyak bahkan melebih perkiraan saya," kata perajin peci rajut "Al Barokah" di Dusun Mintoragan, Wirokerten, Bantul, Wardhani, Rabu.

Menurut dia pesanan peci mulai berdatangan sejak dua bulan sebelum puasa, dan hingga saat ini sudah ada sekitar tujuh orang yang pesan dan semuanya harus dipenuhi dan dikirim sebelum Lebaran.

"Itu belum yang pembelian langsung yang tidak terduga, karena selain melayani pesanan kita layani jika ada yang beli langsung. Belum lama ini juga ada yang beli dua kodi, karena datang dari jauh ya tetap dilayani," katanya.

Ia mengatakan, pesanan peci masing-masing orang berbeda ada yang minta dikirim mulai dari 100 hingga 400 buah, dirinya menghitung totalnya ada sekitar 1.000 lebih peci yang harus dipenuhi hingga akhir puasa ini.

"Ini juga belum semuanya, karena kemungkinan masih ada pesanan lagi mendekati hari Lebaran, berdasarkan pengalaman tahun lalu pesanan peci terus datang hingga sepekan jelang hari raya," katanya.

Menurut dia, kondisi ini jauh berbeda dengan hari-hari biasa maupun sebelum bulan Ramadhan, yang mana pesanan datang sebulan atau dua bulan sekali, sehingga otomatis omzet penjualan berlipat ganda.

Ia menyebutkan, harga peci rajut produksinya dipatok dengan harga Rp12.000 hingga Rp25.000 per buah, tergantung tingkat kesulitan rajutan dan model, seperti berbentuk kopiah yang harganya mahal.

"Peci ini lebih rumit dibanding peci yang berkerangka, karena selain membutuhkan ketelitian juga waktu. Dari tenaga kerja sebanyak 50 orang yang saya pekerjakan, baru tiga orang yang bisa membuatnya," katanya.

(KR-HRI)


Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.